SEBARINDO.COM – Kalau Anda pernah berkunjung ke Pandeglang, Banten, pasti akan melihat satu gunung yang menjulang gagah di kejauhan Gunung Karang.
Meski letaknya jauh dari laut, gunung ini justru punya kisah yang erat hubungannya dengan para pelaut.
Menurut sejarawan Banten seperti Abah Yadi, dalam video podcastnya bersama M Hakim Bawazier, nama “Gunung Karang” bukan sekadar sebutan biasa. Ada sejarah panjang yang membentang dari zaman purba, masa kerajaan, hingga era kolonial.
Gunung Karang, Penanda dari Tengah Laut
Dulu, para pelaut Eropa yang hendak masuk ke Teluk Banten dari arah Laut Jawa menggunakan Gunung Karang sebagai “background” atau penanda.
Dari tengah laut, puncaknya terlihat jelas, menjadi kompas alam untuk memastikan arah menuju Banten. Dari situlah istilah “Gunung Karang” mulai dikenal secara luas di luar wilayah Banten.
Namun, kata “karang” ternyata punya makna yang jauh lebih dalam. Dalam simbolisme alam masyarakat setempat, karang adalah tanda kekuasaan Tuhan, akar kekuatan, bahkan obat untuk luka.
Tradisi lama seperti menyirih menggunakan campuran daun dan kapur dipercaya berhubungan dengan makna simbolik karang ini.
Baca Juga : Legenda Asal Usul Gunung Karang Banten – Mitos, Misteri, dan Pesona Abadi
Simbol Emas dan Kesuburan
Bagi masyarakat Jawa dan Sunda tempo dulu, “karang” juga bermakna emas.
Menurut Abah Yadi, ini berkaitan dengan nama “Pandeglang” yang berasal dari istilah “pandai gelang” bukan gelang perhiasan, melainkan sejenis cacing tanah yang menjadi pupuk alami.
Simbol ini menandakan kesuburan tanah Banten, terutama di sekitar Gunung Karang.
Bukti kesuburan ini juga terlihat dari tinggalan budaya megalitikum, seperti menhir, yang tersebar di lereng gunung.
Situs Pahoman, misalnya, dulunya adalah huma lahan tanam di pegunungan tanpa irigasi.
Menhir di tempat ini menjadi simbol kesuburan, bukan makam, meskipun bentuknya sering disalahartikan.
Jejak Megalitikum dan Energi Alam
Menariknya, lokasi-lokasi megalitikum seperti di Gunung Karang memiliki “energi bumi” yang kuat. Konon, orang dengan kondisi fisik atau mental yang lemah akan sulit bertahan lama di sana.
Masyarakat masa lalu meyakini tempat seperti ini sangat cocok untuk meditasi dan tirakat, karena energinya positif dan mendukung konsentrasi spiritual.
Ketika Islam masuk, situs-situs ini justru dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan seperti wirid dan doa bersama. Keyakinannya, doa akan lebih cepat sampai jika dilakukan di tempat yang energinya baik.
Baca Juga : Apa Saja Daya Tarik dan Fakta Menarik Gunung Honje di Taman Nasional Ujung Kulon?
Dari Salaka Negara hingga Jejak Tionghoa
Sejarawan Banten mencatat, beberapa sumber Eropa dan manuskrip lokal menyebut Gunung Karang sudah dikenal sejak masa Kerajaan Salaka Negara.
Namun, penelitian dari Jerman mengaitkannya dengan pengaruh Tionghoa kuno yang datang sekitar tahun 30 Masehi dengan 1.000 kapal ke pesisir Banten. Bahkan, istilah “Sunda” dalam catatan Tiongkok disebut “Sunsi”, yang diyakini merujuk pada wilayah ini.
Luntur oleh Kolonialisme
Menariknya, Abah Yadi menegaskan bahwa kisah-kisah mistis atau dunia gaib di Gunung Karang baru muncul pada abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1820-an.
Sebelumnya, masyarakat Banten hidup dengan logika, filosofi, dan pengetahuan yang diwariskan leluhur.
Ajaran animisme dan dinamisme justru dibawa oleh kolonial Belanda untuk memutus hubungan masyarakat dengan akar budaya aslinya.
Pesan dari Masa Lalu
Sultan Banten pernah berpesan: “Wong Banten kudu ngagagurat tapak leluhur.” Artinya, orang Banten harus melacak kembali jejak sejarah leluhurnya, agar kebaikan lama tidak hilang ditelan zaman.
Dalam konteks modern, pesan ini mengajak generasi sekarang untuk memandang peninggalan sejarah bukan sekadar benda kuno, melainkan sumber makna dan identitas.
Gunung Karang, dengan segala lapisan ceritanya dari penanda laut, simbol kesuburan, hingga pusat spiritual menjadi bukti bahwa sejarah tidak hanya hidup di buku, tetapi juga di setiap jengkal tanah yang kita pijak.(SA)











