ArtikelBudaya

Gunung Raksa di Pulau Panaitan: Situs Suci Leluhur Nusantara dengan Arca Ganesha dan Siwa di Ujung Kulon

41
×

Gunung Raksa di Pulau Panaitan: Situs Suci Leluhur Nusantara dengan Arca Ganesha dan Siwa di Ujung Kulon

Sebarkan artikel ini
Foto : Petugas Taman Nasional Ujung Kulon bersama Tim Sebarindo menelusuri jejak keberadaan Arca Ganesha. | Sebarindo.com
Foto : Petugas Taman Nasional Ujung Kulon bersama Tim Sebarindo menelusuri jejak keberadaan Arca Ganesha. | Sebarindo.com

SEBARINDO.COM – Pulau Panaitan, yang terletak di sebelah barat Selat Sunda dan termasuk kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), bukan sekadar pulau eksotis dengan hutan asri dan ombak legendaris.

Di balik keindahan alamnya yang sering disebut sebagai “kepingan surga di hamparan Samudra,” pulau seluas sekitar 17.000 hektar ini menyimpan jejak peradaban kuno yang sakral bagi leluhur Nusantara.

Di puncak Gunung Raksa bukit tertinggi di pulau ini terdapat arca Ganesha yang masih bertahan hingga kini, sementara arca Siwa yang dulu menyertainya telah menjadi bagian dari cerita kehilangan warisan budaya.

Artikel ini menyajikan pembahasan mendalam berdasarkan catatan sejarah, temuan arkeologi, naskah kuno, serta laporan resmi peneliti dan lembaga kebudayaan.

Tujuannya adalah memberikan pemahaman yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih jauh situs suci di ujung barat Pulau Jawa ini.

Keindahan Alam Pulau Panaitan dan Posisi Strategisnya

Foto : Petugas Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menyururi pulau Panaitan Ujung Kulon | Sebarindo.com

Pulau Panaitan berada di perairan Selat Sunda, berbatasan dengan daratan Ujung Kulon. Secara administratif, pulau ini masuk wilayah Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Kawasan ini dilindungi sebagai bagian dari Taman Nasional Ujung Kulon yang diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia karena keanekaragaman hayati dan nilai ekologisnya.

Vegetasi di pulau ini beragam: hutan mangrove di pesisir, hutan pantai, dan hutan hujan dataran rendah yang masih relatif utuh. Satwa liar yang dapat ditemui antara lain rusa, kancil, babi hutan, kera ekor panjang, berbagai jenis burung, dan buaya muara. Garis pantai berpasir luas menciptakan lokasi favorit bagi penyelam scuba, terutama di sekitar terumbu karang Batu Pitak dekat Legon Butun. Namun, arus yang kuat membuat area ini tidak direkomendasikan bagi penyelam pemula.

Bagi komunitas peselancar internasional, Panaitan dikenal memiliki salah satu gelombang terpanjang di dunia, mencapai ratusan meter. Spot-spot seperti One Palm Point, Napalms, dan Apocalypse menarik petualang dari berbagai negara. Di masa lalu, pulau ini juga strategis sebagai “gerbang lautan” (Gapura Sagara) karena posisinya di jalur pelayaran Selat Sunda.

Catatan John Joseph Stockdale dalam Sketches of Java (1811) menggambarkan Panaitan (yang disebut Prince’s Island atau Prinsen Eiland) sebagai pulau berbukit yang mudah dikenali dari laut, dihuni oleh nelayan Jawa, dan dilalui dua jalur pelayaran penting: jalur aman dekat pantai Jawa dan jalur yang lebih berbahaya di musim angin tertentu.

Keberadaan pulau ini sebagai titik navigasi dan persinggahan kapal dagang sejak masa klasik hingga kolonial menjadikan posisi Gunung Raksa semakin bermakna secara spiritual dan historis.

Gunung Raksa: Mahapawitra yang Disucikan

Gunung Raksa berdiri setinggi sekitar 329 meter di atas permukaan laut. Nama “Raksa” atau “Reksa” berarti pelindung atau penjaga. Dalam naskah Sunda kuno Bujangga Manik, gunung ini disebut sebagai Gunung Sri Maha Pawitra atau Sanghyang Mahapawitra. Kata “pawitra” dalam bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta mengandung arti suci, keramat, atau tempat yang sangat disucikan.

Menurut catatan Bujangga Manik, saat tokoh utamanya berada di puncak Gunung Papandayan, ia menyebut Gunung Raksa sebagai “tiangnya Panaitan.” Nama Maha Pawitra juga dikenal untuk Gunung Penanggungan di Jawa Timur, gunung suci yang diyakini sebagai puncak Mahameru yang dipindahkan ke Jawa. Keberadaan nama yang sama di ujung barat Pulau Jawa menunjukkan continuum kesucian gunung dalam kosmologi Sunda dan Jawa kuno.

Para peneliti seperti Dani Sunjana menilai bahwa Gunung Raksa kemungkinan berfungsi sebagai pusat peribadatan sekaligus skriptorium (tempat penulisan naskah) pada masa Sunda kuno.

Keberadaan arca di puncaknya memperkuat fungsi sakral tersebut. Dalam naskah Sanghyang Sasana Mahaguru, Ganesha disebut sebagai Bhatara Gana, dewa pemberi perlindungan, dan daun lontar yang digunakan untuk menulis konon merupakan pemberian dari dewa tersebut.

Arca Ganesha dan Arca Siwa: Bukti Kehadiran Peradaban Hindu

Arca Ganesha di Gunung Raksa Pulau Panaitan
Foto : Arca Ganesha di puncak Gunung Raksa | Sebarindo.com

Arca Ganesha di puncak Gunung Raksa dibuat dari batu andesit. Tingginya sekitar 89,5 cm dengan lebar badan sekitar 69 cm, duduk di atas singgasana teratai (padmasana). Ciri uniknya antara lain tidak mengenakan mahkota lengkap, hanya goresan yang menyerupai rambut, serta atribut tangan yang berbeda dari kebanyakan arca Ganesha di Jawa Tengah atau Timur.

Beberapa peneliti terbaru dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VIII mencatat bahwa arca ini memegang kamandalu (kendi air) dan parasu (kapak), yang mengarah pada wujud Dvija Ganapati salah satu manifestasi Ganesha yang melambangkan kelahiran kembali.

Arca Siwa yang dulu berada di lokasi yang sama memiliki gaya yang lebih sederhana dan kaku, mirip arca megalitik. Tingginya sekitar 76,5 cm. Arca ini pernah dilaporkan hilang (diduga dicuri) sekitar dekade 1980-an, kemudian ditemukan kembali dan kini disimpan di Museum Negeri Sri Baduga, Bandung, dengan nomor inventaris tertentu. Kehilangan arca Siwa merupakan kerugian besar karena arca tersebut memiliki ciri ikonografi yang unik dan berbeda dari pakem umum di Jawa.

Keberadaan kedua arca pertama kali dilaporkan secara resmi oleh Wedana Caringin, Raden Adipati Koesoemaningrat, pada tahun 1894 saat inspeksi pilar triangulasi di gunung tersebut. Laporan Dinas Purbakala pada 1952–1953 dan pendaftaran sejak 1914 menegaskan bahwa situs ini sudah dikenal sejak era kolonial. Penelitian modern oleh Universitas Padjadjaran (1977), Halwany Michrob, Agus Aris Munandar, dan tim BPK terus memperbarui data tentang situs ini.

Para ahli memiliki perbedaan pendapat mengenai penanggalan. Beberapa sumber awal menyebut abad pertama Masehi, sementara analisis ikonografi lebih banyak mengarah ke abad ke-7 hingga ke-8 Masehi, sejalan dengan awal masuknya pengaruh India di Jawa bagian barat sebelum berkembang pesat di Jawa Tengah.

Temuan arca lain di kawasan Ujung Kulon pada 2024 (kepala arca, batu pion, dan lulumpang) yang diperkirakan abad ke-7 memperkuat bukti bahwa wilayah barat Jawa sudah mengenal tradisi Siwaisme relatif awal.

Jejak dalam Naskah Kuno dan Klaim Salakanagara

Foto : Arca Ganesha di Gunung Raksa Pulau Panaitan 2 | Sebarindo.com

Dalam naskah Pangeran Wangsakerta (Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara), Pulau Panaitan disebut Nusamandala. Beberapa penafsiran lokal menempatkan pulau ini sebagai bagian penting dari Kerajaan Salakanagara yang konon berdiri sekitar tahun 130 Masehi di bawah Dewawarman, dengan gelar Aji Raksa Gapura Sagara. Menurut naskah tersebut, pasukan laut (Sarwajala) ditempatkan di sini dan memungut pajak kapal yang melewati Selat Sunda.

Naskah Sunda kuno lain seperti Cerita Raden Jayakeling (Kropak 406) dan Tutur Buana (Kropak 460) menyebut Panaitan sebagai kabuyutan (tempat suci) dan bagian dari “wajah alam dunia” bersama Ujung Kulon dan Bukit Langlayang. Dalam Tutur Buana, Ujung Kulon digambarkan sebagai kepala, Panaitan sebagai rambut, dan Bukit Langlayang sebagai alis dunia.

Namun, perlu dicatat secara ilmiah bahwa keberadaan Salakanagara masih diperdebatkan. Sumber utamanya adalah naskah Wangsakerta yang disusun pada abad ke-17, jauh setelah masa yang diklaim.

Hierarki bukti sejarah menempatkan prasasti sezaman dan tinggalan arkeologi di atas karya sastra kemudian. Hingga kini, belum ditemukan prasasti kontemporer yang secara langsung mengonfirmasi kerajaan tersebut. Oleh karena itu, klaim tentang Salakanagara lebih tepat dipahami sebagai tradisi historiografi lokal yang berharga, bukan fakta arkeologis yang telah terverifikasi sepenuhnya.

Yang lebih kuat adalah bukti material berupa arca dan posisi strategis pulau di jalur perdagangan maritim India–Asia Tenggara–Cina. Kapal-kapal yang menghindari Selat Malaka sebelum abad ke-7 sering singgah di pantai barat Sumatera dan kemudian di Jawa bagian barat, termasuk Panaitan.

Legenda Harta Karun dan Ancaman terhadap Warisan

Di kalangan masyarakat, perairan antara Ujung Kulon dan Panaitan sering dikaitkan dengan legenda harta karun kapal Belanda dan Jepang yang karam.

Cerita tentang emas rampasan Jenderal Yamashita juga beredar. Stockdale sendiri menggambarkan jalur di sekitar pulau ini berbahaya karena arus dan karang. Meskipun kabar penjarahan bawah laut sempat muncul pada 1990-an, hingga kini belum ada konfirmasi resmi yang terbuka kepada publik.

Yang lebih nyata adalah ancaman terhadap artefak di darat. Hilangnya arca Siwa menjadi pengingat bahwa situs terpencil rawan pencurian. Arca Ganesha yang tersisa kini dilindungi dalam kerangka Taman Nasional dan pengawasan BPK. Penelitian terkini menunjukkan komitmen lembaga resmi untuk mendokumentasikan dan melindungi Objek Diduga Cagar Budaya di lokasi ini.

Makna bagi Masa Kini: Wisata, Pendidikan, dan Pelestarian

Pulau Panaitan menawarkan kombinasi langka: keindahan alam kelas dunia, situs arkeologi sakral, dan nilai spiritual bagi komunitas Sunda. Bagi wisatawan, mendaki Gunung Raksa membutuhkan persiapan karena hutan lebat dan jalur yang tidak selalu jelas. Bagi peneliti dan pecinta sejarah, situs ini menjadi jendela untuk memahami awal pengaruh Hindu-Siwa di Jawa barat.

Pelestarian harus seimbang. Aktivitas wisata (surfing, diving, trekking) perlu dikelola agar tidak merusak ekosistem dan situs. Dokumentasi digital, edukasi masyarakat lokal, dan penelitian lanjutan sangat diperlukan. Hilangnya satu arca saja sudah menyulitkan rekonstruksi sejarah; kehilangan yang lebih besar akan menghapus petunjuk penting tentang leluhur Nusantara.

Gunung Raksa dan Arca Ganesha di Panaitan bukan hanya tinggalan batu. Mereka adalah saksi bisu bahwa sejak ratusan bahkan mungkin lebih dari seribu tahun lalu, manusia di ujung barat Pulau Jawa telah membangun hubungan spiritual dengan alam, laut, dan kekuatan yang mereka yakini melindungi perjalanan hidup. Menjaga situs ini berarti menjaga memori kolektif bangsa dan menghormati kesucian yang diwariskan para leluhur.

Dengan memahami konteks sejarah, arkeologi, dan naskah kuno secara berimbang, kita dapat menghargai Panaitan bukan sekadar destinasi wisata, melainkan sebagai bagian utuh dari warisan budaya dan spiritual Nusantara yang layak dilindungi untuk generasi mendatang. (MTA)