ArtikelBudayaWisata Indonesia

Sejarah Lengkap Gunung Pulosari, Dari Brahmana Kandali hingga Temuan Arca Hindu

14
×

Sejarah Lengkap Gunung Pulosari, Dari Brahmana Kandali hingga Temuan Arca Hindu

Sebarkan artikel ini
Gunung Pulosari di Kabupaten Pandeglang
Foto : Gunung Pulosari di Kabupaten Pandeglang

SEBARINDO.COM – Gunung Pulosari di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, bukan sekadar gunung biasa. Bagi masyarakat setempat dan para peneliti sejarah, gunung ini telah lama dipandang sebagai salah satu gunung keramat yang menyimpan jejak panjang peradaban.

Dari masa prasejarah hingga masa klasik Hindu-Buddha, kawasan di sekitar gunung ini menyimpan beragam tinggalan arkeologi yang menunjukkan bahwa wilayah Banten Selatan pernah menjadi pusat aktivitas spiritual, pemujaan leluhur, dan bahkan kemungkinan pusat keagamaan yang cukup penting.

Artikel ini disusun berdasarkan sejumlah sumber sejarah dan laporan arkeologi yang telah diungkapkan para ahli, termasuk keterangan dari tradisi lokal, catatan kolonial, serta temuan lapangan.

Tujuannya adalah menyajikan informasi yang akurat, terstruktur, dan dapat dipercaya mengenai sejarah Gunung Pulosari, sekaligus menekankan pentingnya pelestarian warisan budaya tersebut di era otonomi daerah.

Historis Dari Brahmana Kandali hingga Perjalanan Sunan Gunung Jati

Dalam tradisi Banten, Gunung Pulosari disebut-sebut memiliki hubungan erat dengan masa awal penyebaran Islam di wilayah ini. Dikisahkan bahwa Sunan Gunung Jati bersama putranya, Hasanuddin (pendiri Kesultanan Banten), pernah melakukan perjalanan menuju gunung tersebut.

Menurut Sunan Gunung Jati, wilayah di atas gunung itu merupakan kawasan Brahmana Kandali. Di sana hidup sekitar 800 ajar (pendeta atau pertapa) yang dipimpin oleh Pucuk Umum. Konon, keberadaan komunitas tersebut berlangsung cukup lama, bahkan lebih dari sepuluh tahun.

Keterangan ini menunjukkan bahwa Gunung Pulosari sudah dikenal jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten. Bahkan, diperkirakan gunung ini telah muncul dan menjadi pusat aktivitas spiritual sebelum terbentuknya Kerajaan Banten Girang yang bercorak Hindu-Buddha. Dengan kata lain, Gunung Pulosari menjadi saksi peralihan dari masa pra-Islam menuju masa Islam di Banten.

Para ahli kepurbakalaan, seperti yang dicatat dalam laporan-laporan awal abad ke-20, juga menegaskan pentingnya kawasan ini. Ahmad Jayadiningrat pada tahun 1913 dan catatan dalam Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indië tahun 1914 menyebutkan adanya peninggalan arkeologi berupa arca nenek moyang di seputar Kabupaten Pandeglang. Salah satu yang menonjol adalah patung bertipe Polinesia di kawasan Tenjo yang dikenal sebagai Situs Sanghyang Dengdek.

Claude Guillot, seorang peneliti yang mendalami sejarah Banten, memberikan gambaran lebih rinci. Di Desa Sanghyang Dengdek, Kecamatan Saketi, terdapat pemujaan lama yang menyandang nama dewa.

Tempat pemujaan itu berupa batu berdiri setinggi sekitar satu meter. Puncaknya dipahat sederhana dan kasar membentuk kepala manusia: mata bulat, mulut hanya berupa goresan, telinga dibuat tipis, dan hidung hampir tidak nyata.

Lengan serta kelamin lelaki tampak, meski tidak menonjol. Bentuk arca yang sangat sederhana ini mencerminkan gaya artistik yang khas dari masa megalitik atau proto-klasik.

Gambaran tersebut memperkuat anggapan bahwa Gunung Pulosari merupakan salah satu pusat peradaban masa lalu di Banten Selatan. Bukti-bukti tinggalan yang tersebar di sekelilingnya semakin menguatkan posisi tersebut.

Ragam Situs Arkeologi di Sekitar Gunung Pulosari

Kabupaten Pandeglang kaya akan situs sejarah dan prasejarah. Beberapa di antaranya yang berada di sekitar Gunung Pulosari antara lain:

  • Situs Batu Bergores Cidaresi di Kampung Cidaresi, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk.
  • Situs Batu Menhir Keramat Dalem Majau, kompleks pemakaman kuno di Kampung Pasir Angin.
  • Batu Tulis Muru, sebuah prasasti di Kampung Murui, Kecamatan Menes.
  • Batu Ranjang, sebuah dolmen di Kampung Batu Ranjang, Cimanuk.
  • Batu Notot atau Batu Lingga di Kampung Batu Lingga, Kecamatan Banjar.
  • Batu Tapak Pasir Gumapak di Kampung Pasir Gumapak, Cadasari.
  • Batu Sorban di Kampung Kaduhajo.
  • Menhir Pasir Putuwi di Kampung Pasir, Cadasari.
  • Prasasti Cidangangunjul di Desa Lebak, Kecamatan Munjul.
  • Situs Sanghyang Dengdek dan Sanghiang Heuleut di sekitar Desa Kaduhajo.
  • Situs Gunung Cupu di Desa Gunung Cupu, Kecamatan Cimanuk.

Masih banyak lagi situs yang belum teridentifikasi secara lengkap. Keberadaan sejumlah tinggalan ini menunjukkan bahwa kawasan sekitar Gunung Pulosari pernah menjadi ruang aktivitas manusia dalam jangka waktu yang panjang.

Baca Juga : 8 Fakta Terbaru Gunung Pulosari Pandeglang, Pesona Alam dan Sejarah di Banten

Situs Batu Gong dan Kompleks Megalitik yang Berlanjut

Foto : Situs Batu Gong (juga disebut Batu Gungcita) yang terletak di atas Bukit Kaduguling

Salah satu situs paling menonjol adalah Situs Batu Gong (juga disebut Batu Gungcita) yang terletak di atas Bukit Kaduguling, di perbatasan Desa Sukasari dan Desa Bongkaslandeo, Kecamatan Menes. Situs ini berada sekitar empat kilometer dari Situs Sanghyang Dengdek.

Hasil penggambaran Direktorat Purbakala tahun 1999 menunjukkan bahwa situs ini berupa punden berundak yang memanfaatkan bentukan alam Bukit Kaduguling. Dari kaki situs menuju puncak Gunung Pulosari, dibentuk pelataran-pelataran bertrap-trap yang makin ke timur makin tinggi, sehingga menciptakan kesan memusat ke belakang.

Di tempat tertinggi ditempatkan Batu Gong bersama sebuah menhir. Menhir tersebut berdiri di tengah sebagai pusat, dikelilingi batu-batu berbentuk gamelan seperti gong dan batu pelinggih. Formasi semacam ini lazim disebut formasi temu gelang.

Formasi serupa dapat diperbandingkan dengan peninggalan megalitik di Matesih, Jawa Tengah, dan Situs Pugung Raharjo di Lampung Timur. Perbandingan ini menunjukkan adanya pola budaya megalitik yang tersebar di wilayah yang lebih luas di Nusantara.

Tidak jauh dari Batu Gong, sekitar 450 meter ke arah yang lebih rendah, terdapat Situs Citaman berupa kolam megalitik berukuran cukup besar.

Berdasarkan pendataan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Serang, Situs Batu Gong dan Citaman dahulu merupakan satu kesatuan kompleks budaya dalam periode yang sama. Di Citaman ditemukan batu-batu berlubang, batu datar, batu dakon, dan batu bergores.

Temuan keramik di kawasan ini semakin memperkuat kronologi. Terdapat pecahan keramik Sung putih yang berasal dari akhir abad ke-10 Masehi (yang paling tua) dan keramik Yuan dari abad ke-14 Masehi. Keberadaan keramik impor ini mengindikasikan adanya kontak perdagangan atau pengaruh budaya dari luar pada masa tersebut.

Menariknya, jika ditarik garis lurus barat-timur antara Batu Gong dengan Sanghyang Dengdek, garis tersebut akan berakhir di puncak Gunung Pulosari. Hal ini memperkuat anggapan bahwa puncak gunung dijadikan kiblat persembahan tempat roh nenek moyang. Gunung Pulosari sendiri dipandang sebagai gunung keramat.

Baca Juga : Legenda Asal Usul Gunung Karang Banten – Mitos, Misteri, dan Pesona Abadi

Tradisi Lokal dan Kedudukan Gunung Pulosari dalam Babad Banten

Dalam Babad Banten, meskipun Gunung Karang dan Gunung Hasan (Hasupan) juga sering disebut-sebut sebagai tempat kegiatan para leluhur pendukung masyarakat Banten, Gunung Pulosari dinyatakan lebih penting dari segi kekeramatannya. Kemungkinan besar, sejak zaman prasejarah gunung ini telah ditunjuk sebagai gunung suci tempat para arwah leluhur bersemayam.

Pada tahun 1993, Ibu Sawinah, penduduk Desa Sukasari, pernah menemukan potongan kaki arca dari masa klasik di sebelah barat Situs Batu Gong. Temuan ini menunjukkan bahwa Situs Batu Gong-Citaman merupakan situs megalitik yang berkelanjutan hingga masa klasik. Peninggalan di seputar Gunung Pulosari ternyata jauh lebih lengkap dan artefaknya dapat ditelusuri hingga periode Hindu-Buddha.

Bahkan, sejumlah sarjana kenamaan telah memiliki bukti awal bahwa di Gunung Pulosari pada abad ke-7 atau ke-9 Masehi telah berdiri bangunan candi, khususnya yang berkaitan dengan agama Hindu. Bukti tersebut kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta berupa koleksi beberapa buah arca Hindu, antara lain Arca Brahma, Arca Siwa, Arca Agastya, Arca Ganesa, Arca Durga, serta lapik arca yang berasal dari Gunung Pulosari.

Dolmen Batu Ranjang dan Batu Bergores Cidaresi: Simbolisme yang Kaya

Di lereng selatan Gunung Pulosari, tepatnya di Kampung Batu Ranjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk, ditemukan sebuah dolmen yang tergolong maju. Meja batunya telah dikerjakan secara halus dibandingkan dengan dolmen-dolmen yang ditemukan di Sumatera bagian selatan.

Dolmen Batu Ranjang terbuat dari batu andesit, permukaannya rata, disangga empat batu, dan dikerjakan sangat rapi dengan pahatan pelipit melingkar. Di bawahnya terdapat pondasi dari batu kali untuk menahan batu penyangga agar tidak terbenam. Di sebelah timur dolmen terdapat batu lumpang atau batu berlubang.

Bentuk dolmen ini mengingatkan pada batu dolmen di Sumba yang digunakan sebagai tempat penguburan raja-raja. Namun, secara pasti fungsi Dolmen Batu Ranjang belum diketahui secara definitif—apakah sebagai kuburan atau media pemujaan arwah leluhur—karena belum pernah dilakukan penelitian ekskavasi arkeologis secara mendalam.

Sementara itu, di Kampung Cidaresi, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanuk, ditemukan batu monolit megalitik berupa batu bergores. Bentuk goresannya sangat berbeda dari batu-batu bergores di tempat lain.

Batu Bergores Cidaresi berbentuk segitiga dengan lubang di tengah-tengah sehingga dianggap menyerupai kemaluan wanita. Penduduk setempat menamakannya batu tumbung. Diduga, batu ini menggambarkan simbol kesuburan atau sebagai lambang kesucian wanita.

Gunung Pulosari sebagai Pusat Peradaban Masa Lalu

Berdasarkan seluruh temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa Gunung Pulosari merupakan salah satu pusat peradaban masa lalu di wilayah Banten Selatan. Tinggalan megalitik yang melimpah, keberlanjutan hingga masa klasik Hindu-Buddha, serta posisi gunung sebagai kiblat spiritual menunjukkan kompleksitas budaya yang berkembang di kawasan ini.

Keberadaan arca-arca Hindu di Museum Nasional, keramik impor dari abad ke-10 hingga ke-14, serta formasi punden berundak yang terencana memperkuat hipotesis bahwa kawasan ini tidak hanya menjadi tempat pemujaan leluhur, tetapi juga pusat aktivitas keagamaan dan mungkin perdagangan dalam skala tertentu.

Urgensi Pelestarian dan Pengembangan Wisata Budaya

Di era otonomi daerah saat ini, seluruh peninggalan di sekitar Gunung Pulosari patut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Perlindungan dan pelestarian sangat diperlukan agar warisan budaya ini tidak hilang atau rusak. Lebih dari itu, situs-situs tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya yang edukatif.

Pengembangan wisata budaya yang bertanggung jawab dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga jejak sejarah bangsa. Namun, setiap langkah pengembangan harus didasari penelitian ilmiah yang memadai agar nilai arkeologis dan historisnya tetap terjaga.

Foto : Situs Citaman berupa kolam megalitik

Penutup

Gunung Pulosari adalah warisan berharga Kabupaten Pandeglang dan Provinsi Banten. Dari masa megalitik hingga masa klasik, gunung ini telah menjadi saksi perjalanan panjang peradaban di Banten Selatan. Melalui pemahaman yang lebih baik terhadap sejarah dan tinggalan arkeologinya, kita tidak hanya menghargai masa lalu, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kuat untuk pelestarian budaya di masa depan.

Semoga informasi yang disajikan dalam artikel ini dapat menjadi rujukan awal bagi masyarakat, peneliti, dan pemangku kepentingan untuk terus mendalami serta melindungi jejak sejarah Gunung Pulosari.