Budaya

Lepas Ego Sektoral, Pemkot dan Komunitas Budaya Kota Cilegon Bersatu Dorong Transformasi Kota Kreatif

74
×

Lepas Ego Sektoral, Pemkot dan Komunitas Budaya Kota Cilegon Bersatu Dorong Transformasi Kota Kreatif

Sebarkan artikel ini
Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo saat dialog di Sarasehan Budaya bertajuk "“Transformasi Menuju Budaya Kota Cilegon Kreatif” yang berlangsung di Gedung Balai Budaya, Dindikbud Kota Cilegon, Rabu (21/10/2026).Foto"poesaputra-sebarindo.com

SEBARINDO.COM-Momentum bersejarah bagi masa depan kebudayaan Kota Cilegon terwujud dalam helatan Sarasehan Budaya bertajuk “Transformasi Menuju Budaya Kota Cilegon Kreatif” yang berlangsung di Gedung Balai Budaya, Dindikbud Kota Cilegon, Rabu (21/10/2026).Acara ini menjadi panggung sinergi dan seruan persatuan bagi seluruh pelaku seni, budayawan, komunitas, serta Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon untuk meleburkan ego sektoral demi memajukan kebudayaan daerah.

Sarasehan yang dihadiri oleh Wakil Wali Kota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo,Kepala Dindikbud Heni Anita Susila serta Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cilegon (DKCC) Ayatullah Khumaeni ini menegaskan, kebudayaan Kota Cilegon bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi utama identitas dan daya dorong kemajuan kota di tengah riuk-pikuk perkembangan industri.

Di hadapan para pegiat seni dan budaya, Wakil Wali Kota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo, menyampaikan pesan telak mengenai pentingnya kebersamaan. Ia menegaskan bahwa kemajuan kebudayaan Cilegon tidak akan pernah tercapai jika setiap komunitas masih berjalan sendiri-sendiri dengan agenda kelompoknya masing-masing.

“Saatnya kita melepas ego sektoral masing-masing komunitas. Pemkot Cilegon juga memiliki tanggung jawab penuh untuk mengidentifikasi dan memetakan apa yang harus kita lakukan bersama untuk memfasilitasi komunitas ini. Pada intinya, semua langkah ini demi menjaga dan mengangkat nama baik kebudayaan Kota Cilegon,” tegas Fajar usai acara.

Fajar mengingatkan, kebudayaan adalah jati diri sebuah daerah. Walaupun Kota Cilegon telah meraih berbagai pencapaian, evaluasi menyeluruh harus tetap dilakukan tanpa menghentikan langkah perjuangan.

“PR kita masih sangat banyak, apalagi dengan tantangan kondisi keuangan pemerintah saat ini. Namun, itu jangan pernah dijadikan alasan untuk berhenti berkarya dan melestarikan budaya,” tambah Fajar.

Solusi Ruang Ekspresi: Kebudayaan Tidak Boleh Hanya Terpusat di Alun-Alun

Salah satu isu penting yang mengemuka dalam diskusi tersebut yaitu aspirasi para pelaku seni mengenai ketiadaan gedung kebudayaan atau kesenian yang representatif di Kota Cilegon. Menanggapi hal tersebut, Fajar menjelaskan bahwa Pemkot Cilegon telah mengkaji dan merencanakan inisiatif tersebut bersama Wali Kota Cilegon. Namun, pelaksanaannya harus cermat dan menaati payung hukum yang berlaku.

“Kita harus melihat dulu aturan mainnya, sebab ada beragam regulasi baik di tingkat daerah maupun pusat yang harus dipatuhi,” jelasnya.

Sembari menunggu proses tersebut, Fajar mengajak para pelaku seni untuk berpikir progresif dan tidak membatasi ruang gerak. Ia mengimbau agar aktivitas kebudayaan tidak melulu berkutat di Alun-Alun Kota Cilegon agar kegiatan budaya dapat menyapa seluruh warga di berbagai penjuru kota.

“Jangan terlalu sentris atau terpusat di Alun-alun saja. Manfaatkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan ruang publik yang kini sudah tersebar di kecamatan-kecamatan dengan kondisi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Pertunjukan seni bisa diselenggarakan di sana, sehingga kebudayaan benar-benar hidup, menyebar, dan dinikmati oleh masyarakat luas,” harapnya.

Empat Pilar Transformasi Budaya Cilegon

Sarasehan Budaya ini digagas bukan sekadar forum diskusi atau ajang seremoni belaka, melainkan ruang konkret untuk bertukar gagasan, menyatukan pikiran, serta merumuskan aksi nyata.

Di tengah citra Cilegon sebagai Kota Industri yang sangat vital bagi perekonomian nasional, terdapat kekayaan luar biasa—mulai dari tradisi Pencak Silat, seni pertunjukan, tradisi lisan, hingga adat istiadat—yang menjadi modal modal sosial dan karakter daerah.

Foto:ist

Untuk merespons tantangan zaman, dirumuskan 4 Pilar Penting yang menjadi panduan bersama seluruh pentahelix di Cilegon yaitu pelestarian budaya sebagai fondasi identitas dimana tradisi dan pengetahuan lokal harus diwariskan secara berkelanjutan melalui keterlibatan aktif keluarga, lembaga pendidikan, komunitas, dan pemerintah.

Lalu, kreativitas dan inovasi sebagai Kekuatan dengan memanfaatkan festival, pameran, kerajinan, kuliner tradisional, hingga teknologi digital untuk mengenalkan budaya Cilegon ke pentas nasional dan internasional.

Generasi muda sebagai aktor utama, memberikan kepercayaan dan ruang seluas-luasnya bagi anak muda Cilegon untuk berkarya, berinovasi, dan bangga akan jati diri budayanya.

“Dan, kolaborasi lintas sector dengan membangun ekosistem kebudayaan yang solid melalui sinergi antara Pemda, seniman, akademisi, dunia usaha (industri), media, dan masyarakat,”tegas Fajar.

Momentum Kebangkitan Cilegon Kota Kreatif

Melalui momentum Sarasehan Budaya ini, seluruh elemen kebudayaan Cilegon diajak untuk melangkah bersama secara konkret—mulai dari memperkuat pendataan warisan budaya, meningkatkan kualitas ruang berekspresi, hingga menghubungkan kebudayaan dengan sektor pariwisata, pendidikan, dan ekonomi kreatif.

“Mari kita jadikan sarasehan ini sebagai titik balik untuk memperkuat komitmen bersama. Jangan sampai kemajuan pembangunan industri membuat kita lupa akan akar budaya. Sebaliknya, jadikan kemajuan itu sebagai batu loncatan untuk merawat warisan leluhur, memajukan kreativitas, dan menjadikan Cilegon sebagai kota yang maju, berkarakter, berbudaya, dan kreatif,” pungkas Fajar.(PSR)