Cilegon

Cilegon Mulai Babak Baru Urusan Sampah: Bukan Lagi Sekadar Angkut ke TPSA, tapi Bereskan dari Rumah

61
×

Cilegon Mulai Babak Baru Urusan Sampah: Bukan Lagi Sekadar Angkut ke TPSA, tapi Bereskan dari Rumah

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Cilegon Robinsar mencoba kendaraan pick up bantuan dari BPBPK Banten di halamanAston Boutique Hotel.Foto:ist

SEBARINDO.COM — Persoalan sampah di perkotaan sering kali dianggap selesai begitu armada truk mengangkut tumpukan sampah dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) menuju Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA). Namun, paradigma lama tersebut kini mulai ditinggalkan oleh Pemerintah Kota Cilegon.

Persoalan sampah di Kota Baja ini ditegaskan harus diselesaikan secara bersama, sistematis, dan berkelanjutan, dengan fokus utama yang ditarik jauh ke hulu yakni dari rumah tangga masing-masing warga.

Komitmen tersebut mengemuka dalam acara Sosialisasi Tingkat Kota dan Serah Terima Sarana Pengumpulan Sampah di Hulu Program Indonesia Solid Waste Management Project (ISWMP) di Cilegon.

“Permasalahan sampah merupakan persoalan yang harus kita selesaikan secara bersama, sistematis, dan berkelanjutan. Kita tidak dapat lagi memandang pengelolaan sampah hanya sebagai urusan mengangkut sampah dari TPS menuju TPSA,” Wali Kota Cilegon,Robinsar, di Aston Boutique Hotel,Selasa (6/9/2026).

Pengelolaan sampah, lanjut Robinsar, harus dimulai dari akar rumput—mulai dari rumah tangga, lingkungan RT dan RW, sekolah, pasar, kawasan usaha, hingga tingkat kelurahan. Karena itulah, program ISWMP disambut positif karena memberikan perhatian khusus pada penguatan sistem pengumpulan sampah terpilah di tingkat kelurahan.

Kecamatan Cilegon dan Citangkil Jadi Pilot Project

Sebagai langkah awal yang konkret, pemerintah menetapkan Kecamatan Cilegon dan Kecamatan Citangkil sebagai wilayah pilot project. Di dua kawasan ini, infrastruktur, kelembagaan, serta partisipasi warga akan digenjot secara maksimal sebelum direplikasi ke wilayah lainnya.

Dalam implementasinya, pemerintah tidak hanya mengandalkan petugas kebersihan jalanan. Lembaga Pengelola Sampah (LPS) dan Tim Sapu Bersih Sampah Kelurahan dibentuk untuk menjadi ujung tombak di lapangan.

“Ketika kita berbicara tentang sapu bersih sampah, jangan hanya berbicara tentang petugas yang menyapu jalan. Yang kita bangun adalah sebuah sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat kelurahan,” tegas Robinsar.

Gerakan ini dirancang bukan sekadar untuk membersihkan sampah yang sudah terlanjur berserakan, melainkan gerakan pencegahan dari sumbernya. Para lurah pun diinstruksikan untuk turun tangan langsung sebagai pengendali dan penggerak utama di wilayahnya, bersinergi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), UPTD DLH, RT/RW, Bank Sampah, serta elemen masyarakat.

Perkuat Rantai Hulu ke Hilir Lewat Bantuan Sarana

Dalam kesempatan yang sama, dilakukan pula serah terima sarana pengumpulan sampah di hulu berupa kendaraan dari Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Banten.Sebanyak 59 unit kendaraan terdiri dari 28 unit pick up serta 3 unit dumptruck.Dimana saat ini, jumlah sampah di Kota Cilegon mencapai sekira 450 hingga 500 ton per hari.

Jajaran kendaraan pengangkut sampah bantuan dari BPBPK Banten.Foto:ist

Robinsar juga mengingatkan, bantuan sarana tersebut tidak sekadar menjadi pajangan seremonial, melainkan instrumen nyata yang dikelola dengan transparan. Setiap kelurahan dituntut memiliki sistem yang jelas, siapa yang mengumpulkan, siapa yang memilah, ke mana sampah dibawa, apa yang bisa didaur ulang, dan berapa banyak residu yang akhirnya dibuang ke TPSA.

“Jangan sampai setelah kegiatan hari ini selesai, sarana ada tetapi sistemnya tidak berjalan. Kita tidak ingin membangun sarana tanpa membangun kelembagaan,” pesannya.

Keberhasilan dari program ISWMP ini nantinya akan diukur dari konsistensi jangka panjang—apakah warga tetap memilah sampah dari rumah, apakah LPS aktif bekerja, dan apakah volume sampah yang masuk ke TPSA benar-benar dapat ditekan.

Dengan dukungan dari Kementerian PU, World Bank, Pemprov Banten, serta seluruh masyarakat, Cilegon optimis menatap masa depan lingkungan yang lebih bersih. Dari hulu kita bergerak, dari kelurahan kita mulai, demi Cilegon yang asri dan berkelanjutan.(PSR)