Example 728x250
Berita

Pertama Kali dalam Sejarah: Badak Jawa Ditranslokasi dengan Dukungan Transportasi KAPA K-61 Marinir

357
×

Pertama Kali dalam Sejarah: Badak Jawa Ditranslokasi dengan Dukungan Transportasi KAPA K-61 Marinir

Sebarkan artikel ini
Badak Jawa ((Rhinoceros sondaicus)) jantan bernama Musofa berhasil dilakukan translokasi dari habitat alaminya di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menuju kawasan konservasi intensif, Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA).Foto:Dok TNUK

SEBARINDO.COM-Sejarah konservasi satwa liar Indonesia kembali mencatat tonggak penting. Untuk pertama kalinya, proses translokasi satu individu Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) berhasil dilakukan dari habitat alaminya di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) menuju kawasan konservasi intensif, Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA).

Individu jantan bernama Musofa menjadi Badak Jawa pertama yang ditranslokasi dalam sebuah operasi besar yang diberi nama sandiOperasi Merah Putih”. Operasi ini bukan sekadar pemindahan fisik, melainkan penegasan komitmen strategis lintas lembaga, terutama dukungan penuh dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), dalam upaya penyelamatan spesies endemik yang statusnya sangat terancam punah.

Dalam rilis yang diterima sebarindo.com, Operasi Merah Putih diselenggarakan sebagai solusi untuk mengurangi risiko populasi Badak Jawa yang terpusat di satu kantong habitat. Ini adalah langkah awal menciptakan sub-populasi baru yang lebih aman dari ancaman bencana alam maupun wabah penyakit.

Komandan Satuan Tugas Operasi Merah Putih dipimpin oleh Komandan Resor Militer (Danrem) 064/Maulana Yusuf Banten, dengan Wakil Komandan Satuan Tugas dipegang oleh Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Banten dan Kepala Balai TN Ujung Kulon. Struktur komando gabungan ini menunjukkan bahwa misi konservasi ini telah diangkat menjadi agenda strategis negara.

KAPA K-61, Penentu Logistik Berisiko Tinggi

Kunci utama kelancaran misi ini terletak pada aspek logistik di medan yang ekstrem. Kawasan TNUK, dengan jalur darat yang sempit, licin, dan perairan yang menantang, membutuhkan kendaraan yang mampu menjamin keamanan dan kenyamanan satwa. Solusi ditemukan pada kendaraan angkut amfibi KAPA K-61 milik Marinir TNI AL.

Sebelum pelaksanaan di lapangan, rangkaian persiapan matang telah dilakukan. Salah satunya adalah simulasi penggunaan KAPA K-61 untuk memetakan tantangan medan saat membawa kandang angkut berisi Badak Jawa yang memiliki estimasi berat total lebih dari satu ton.

Pada 25 September 2025, Kementerian Kehutanan (Kemenhut), TNI, dan Yayasan Badak Indonesia (YABI) juga menggelar Tactical Floor Game (TFG) di Auditorium Manggala Wanabakti, Jakarta. TFG ini berfungsi sebagai simulasi strategis untuk memastikan koordinasi tim, jalur evakuasi, dan respons risiko dipahami seluruh personel yang terlibat.

Kendaraan angkut amfibi KAPA K-61 milik Marinir TNI AL yang membawa satu individu jantan Badak Jawa di Ujung Kulon.Foto:Dok TNUK

Pada Tanggal 3 November 2025, individu badak jantan Musofa berhasil masuk ke dalam pit trap setelah melalui pemantauan intensif. Tim segera melakukan pemeriksaan kondisi awal, penilaian stres, dan persiapan perpindahan sesuai prosedur kesehatan hewan.

Tanggal 4 November 2025 sekira pukul 04.00 WIB, proses evakuasi Musofa dari pit trap menuju kandang angkut khusus dimulai. Personel bergerak cermat melewati jalur hutan yang sempit dan licin menuju titik penjemputan KAPA K-61 Marinir TNI.

Tanggal 5 November 2025 sekira pukul 14.20 WIB, kendaraan amfibi KAPA K-61 mulai mengangkut kandang Musofa. Kestabilan dan ketangguhan KAPA K-61 sangat vital saat mengarungi rute laut menuju Legon Pakis, titik pendaratan terdekat menuju JRSCA.

Pukul 17.00 WIB, setibanya di titik transfer, tim segera memindahkan kandang Musofa ke jalur darat terakhir menggunakan truk.

Pukul 18.20 WIB, Musofa tiba di JRSCA untuk selanjutnya menjalani fase adaptasi dan observasi medis lanjutan di kandang rawat (paddock).

Keberhasilan pengoperasian KAPA K-61 ini menegaskan standar operasi tinggi Marinir TNI dan menjadi bukti bahwa kolaborasi ilmiah dan dukungan strategis lintas sektor merupakan fondasi penting dalam menjalankan misi konservasi Badak Jawa yang kompleks.(PSR)