Example 728x250
BeritaSerang

Program Makan Bergizi Dikonversi Jadi Snack Kemasan, Diduga Abaikan Kesehatan Siswa

764
×

Program Makan Bergizi Dikonversi Jadi Snack Kemasan, Diduga Abaikan Kesehatan Siswa

Sebarkan artikel ini
MBG dirubah Menjadi Snack Kemasan.Foto:feriadisaputra-sebarindo.com

SEBARINDO.COM – Program Makan Bergizi (MBG) yang dijalankan di beberapa sekolah di Kota Serang, termasuk SMAN 2 dan SMAN 6, kini menjadi sorotan publik. Pasalnya, jatah makan bergizi yang seharusnya diterima siswa justru diganti dengan paket snack kemasan.

Keputusan ini menuai kritik tajam dan menimbulkan dugaan kuat adanya praktik penyerapan anggaran yang mengesampingkan kesehatan anak.

Jatah Makanan Dirapel dalam Bentuk Jajanan

Perubahan kebijakan ini bermula saat sekolah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Di SMAN 2 Kota Serang, jatah MBG yang sempat tertunda kemudian dibagikan secara dirapel. Namun, menurut salah satu siswa, paket tersebut hanya berisi jajanan kemasan.

“Ini digabungkan tiga hari, jadi ada tiga roti, tiga biskuit, dan tiga susu UHT,” ungkap seorang siswa berinisial A.

Kondisi serupa juga dialami siswa SMAN 6 Kota Serang. Pihak sekolah mengonfirmasi bahwa jatah MBG akan dirapel pada Senin pekan depan dan dibagikan bersama jatah harian.

“Nanti para siswa akan diberikan jatah MBG seperti biasa plus snack kemasan untuk tiga hari (Selasa, Rabu, dan Kamis),” jelas Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 6, Ganda Yanuar, yang juga Koordinator MBG sekolah tersebut.

Dugaan Praktik Penyerapan Anggaran

Kebijakan ini langsung memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk aktivis dan tokoh masyarakat, Ucu Nur Arief Jauhar. Ia mempertanyakan alasan jatah MBG tetap diberikan saat PJJ, padahal kebutuhan gizi siswa di rumah sudah dipenuhi oleh orang tua.

Menurut Ucu, langkah ini menjadi indikasi adanya praktik penyerapan anggaran. Ia memperkirakan, jika jatah MBG tidak diberikan selama empat hari PJJ, maka akan ada sekitar Rp120 juta anggaran yang tidak terserap.

“SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) diduga sengaja tidak ingin kehilangan serapan anggaran sebesar Rp120 juta. Maka dengan dalih apa pun, jatah harus tetap diberikan kepada siswa meskipun dengan sistem rapel,” kata Ucu.

Lebih lanjut, Ucu menilai kebijakan ini sebagai bentuk penghinaan terhadap orang tua.

“Masa gara-gara makan siang bergizi, lalu makan pagi dan malam di rumah dianggap tidak bergizi dan tidak bisa memenuhi kebutuhan gizi sehari?” tanyanya.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait mengenai tudingan tersebut.(01)