AdvertorialBerita

Berdoa Bersama, Cara Warga Cilegon Jemput Berkah di Usia 27 Tahun

70
×

Berdoa Bersama, Cara Warga Cilegon Jemput Berkah di Usia 27 Tahun

Sebarkan artikel ini
Foto:Diskominfo Kota Cilegon

Angin malam yang berembus di Alun-Alun Kota Cilegon pada Kamis, (23/4/2026) malam terasa berbeda. Ada harmoni yang merayap di sela-sela riuh rendah suara warga. Ribuan pasang mata tertuju pada panggung utama, bukan untuk menonton konser hingar bingar, melainkan untuk sebuah penyerahan diri yang khusyuk Istighosah dan Doa Bersama.

Acara ini bukan sekadar seremonial kalender tahunan. Di ambang usia ke-27, Kota Cilegon memilih memulai langkah perayaannya dengan bersimpuh. Di bawah langit malam, identitas Cilegon sebagai “Kota Santri” kembali mengental.
Sejak sore, gelombang masyarakat dari berbagai penjuru—mulai dari ibu-ibu majelis taklim dengan mukena putihnya hingga para pemuda yang mengenakan koko—mulai memadati area ikonik tersebut. Mereka duduk bersila, bahu-membahu tanpa sekat, menciptakan pemandangan yang meneduhkan.

Di tengah saf, tampak Wali Kota Cilegon Robinsar dan Wakil Wali Kota Fajar Hadi Prabowo duduk bersama para ulama dan tokoh masyarakat. Kehadiran para pemimpin di tengah rintihan doa rakyatnya mengirimkan pesan kuat, bahwa membangun kota tak cukup hanya dengan semen dan beton.

“Terima kasih atas antusiasme masyarakat yang luar biasa. Momentum HUT ke-27 ini bukan milik pemerintah saja, tapi milik kita semua. Ini adalah semangat baru untuk kesejahteraan kita bersama,” ujar Robinsar dengan nada yang menyentuh hati warga.

Makna Angka 27 Kedewasaan dan Berkah

Usia 27 tahun bagi sebuah kota adalah fase transisi menuju kedewasaan yang matang. Bagi Robinsar, fase ini menuntut keseimbangan. Ia menegaskan bahwa kemajuan Cilegon ke depan harus berpondasi pada dua pilar: pembangunan fisik yang modern dan kekuatan spiritual yang kokoh.

“Kita ingin pembangunan berjalan beriringan dengan nilai-nilai religius. Di usia ke-27 ini, Cilegon sudah memasuki fase yang semakin dewasa dan siap melangkah lebih jauh,” tuturnya.

Istighosah ini menjadi ruang jeda di tengah pesatnya industri kota. Melalui bait-bait doa yang dilantunkan, ada harapan kolektif agar kota ini dijauhkan dari marabahaya, serta diberikan keberkahan yang melimpah bagi setiap warganya, dari buruh pabrik hingga pedagang kaki lima.

Foto:Diskominfo Kota Cilegon

Dari Doa Menuju Pesta Rakyat

Meski dimulai dengan kekhusyukan, kemeriahan hari jadi tak lantas hilang. Pemerintah Kota Cilegon memahami betul bahwa rakyat juga butuh ruang kegembiraan. Setelah “mengetuk pintu langit”, rangkaian perayaan akan dilanjutkan dengan berbagai hiburan rakyat dan kegiatan sosial yang telah disiapkan.

“Ada berbagai kegiatan, mulai dari yang sifatnya keagamaan seperti malam ini, hingga hiburan rakyat. Kami ingin masyarakat merasakan manfaat dan kebahagiaan di hari jadi kota kita ini,” tambah Robinsar.

Malam itu, Alun-Alun Cilegon menjadi saksi betapa kuatnya ikatan antara pemimpin dan rakyatnya. Saat lampu-lampu kota mulai meredup dan doa penutup dibacakan, ada optimisme yang terbawa pulang dalam benak setiap warga.
Cilegon di usia 27 tahun bukan sekadar kota industri yang sibuk dengan deru mesin. Ia adalah kota yang masih memiliki jiwa, kota yang tahu kapan harus mengejar mimpi di bumi, dan kapan harus menengadah memohon keberkahan pada Sang Ilahi.(Adv)