SEBARINDO.COM-Musim kemarau panjang kembali menimbulkan krisis air bersih bagi warga yang bermukim di kawasan pegunungan Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon. Warga di Lingkungan Gunung Batur, Tembulun, dan Ciporong di Kelurahan Mekarsari terpaksa harus mengantre hingga berjam-jam di titik mata air terdekat demi memenuhi kebutuhan harian mereka.
Menanggapi krisis tahunan ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon melalukan penanganan ganda yaitu mendistribusikan pasokan air bersih secara rutin sebagai langkah darurat, sekaligus mempercepat pembangunan jaringan pipanisasi sebagai solusi permanen.
Wali Kota Cilegon, Robinsar, meninjau langsung lokasi dan penyaluran air bersih di kawasan terdampak.Ia menegaskan pentingnya memastikan seluruh warga di area dataran tinggi mendapatkan pasokan air secara merata.
“Kami sedang meninjau pendistribusian air dan memastikan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi, khususnya di wilayah pegunungan seperti Gunung Batur I, Gunung Batur II, dan Tembulun. Di wilayah dataran rendah seperti Suralaya juga tetap kami suplai,” ujar Robinsar.
Guna menjaga kelanjutan pasokan air hingga musim kemarau berakhir, Pemkot Cilegon menggalang kolaborasi lintas sektor. Langkah ini melibatkan kelompok masyarakat, BUMN, BUMD, BUMS, hingga penyaluran dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan swasta.
“Selama masyarakat masih membutuhkan air, kami akan terus mengupayakan pengiriman. Targetnya sampai Desember, dan apabila kebutuhan masih ada, distribusi akan terus dilakukan,” kata Robinsar.

Sebagai langkah jangka panjang, Pemkot Cilegon memilih fokus pada pembangunan jaringan pipanisasi ketimbang pembuatan sumur bor. Langkah ini diambil mengingat kondisi geografis kawasan pegunungan Pulomerak yang berkontur curam dan didominasi bebatuan keras.
“Untuk wilayah pegunungan, penggunaan sumur bor memiliki potensi kegagalan yang cukup besar karena kondisi kontur dan bebatuan. Karena itu, solusi yang paling konkret dan optimal adalah pipanisasi dari wilayah bawah, kemudian air didorong ke wilayah atas,” terang Robinsar.
Proyek pipa induk ini sejatinya telah dirintis dari wilayah Grogol dan saat ini pengerjaannya sudah mencapai Cipala. Pada 2026, Pemkot melanjutkan bentangan pipa menuju Suralaya yang ditargetkan selesai pada akhir tahun, sebelum dilanjutkan dengan penyambungan jaringan pipa sekunder ke rumah-rumah warga.
“Kami ikhtiarkan ke depan tidak ada lagi masyarakat yang mengalami kesulitan air. Selanjutnya, kesiapan pasokan air dari PDAM juga akan menjadi bagian penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Pasokan Air Capai 1.200 Meter Kubik
Sementara, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Cilegon, Ahmad Aziz Setia Ade Putra, menyatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk memastikan proyek infrastruktur air minum ini rampung tepat waktu pada Desember 2026.
Hingga saat ini, volume air bersih yang dikirimkan ke kawasan pegunungan tersebut telah menembus lebih dari 1.200 meter kubik.
“Pasokan air yang telah didistribusikan kurang lebih mencapai 1.200 hingga 1.250 kubik dan jumlahnya terus bertambah.Sambil menunggu proyek tersebut rampung, kami menjamin masyarakat di Tembulun serta Gunung Batur I dan II tetap mendapatkan pasokan air bersih setiap hari,” ujarnya.
Terima kasih Pak Wali
Upaya percepatan penanganan krisis air ini disambut baik oleh warga setempat. Ibu Ijah, salah seorang warga Lingkungan Gunung Batur, menuturkan bahwa intensitas pengiriman air bersih dalam dua pekan terakhir jauh lebih cepat dibanding periode sebelumnya.
“Terima kasih kepada Pemerintah Kota Cilegon dan Pak Wali karena kami sudah mendapatkan bantuan air. Alhamdulillah, setiap hari ada pengiriman air ke wilayah kami. Tahun ini pengirimannya lebih cepat, sudah sekitar dua minggu terakhir air terus dikirim. Semoga pengiriman seperti ini dapat terus berlanjut,” kata Ijah.(PSR)













