Example 728x250
Berita

Bau Busuk yang Mengganggu, Antara Janji Jagung dan Jeritan Warga Cisait

270
×

Bau Busuk yang Mengganggu, Antara Janji Jagung dan Jeritan Warga Cisait

Sebarkan artikel ini

SEBARINDO.COM– Setiap sore, aroma tanah basah dan dedaunan yang segar seharusnya menjadi penanda berakhirnya hari di Desa Cisait, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang. Namun,dalam beberapa bulan terakhir, wangi alami itu telah digantikan oleh bau busuk yang menyengat, yang berembus dari lahan pertanian tak jauh dari pemukiman warga, Jumat (12/9/2025).
Bau ini bukan sekadar ketidaknyamanan, melainkan sebuah persoalan yang menguapkan harapan dan menimbulkan pertanyaan, mengapa proyek “ketahanan pangan” justru mengabaikan aspek lingkungan dan kesehatan warga
Masalah ini berawal dari sebuah program yang menjanjikan. Lahan tidur di wilayah Kubang Cempaka, yang menurut informasi akan ditanami jagung sebagai bagian dari inisiatif ketahanan pangan, kini menjadi sumber keresahan. Menurut warga, bau busuk itu berasal dari tumpukan limbah kotoran ayam (kohe) yang ditumpuk di sana untuk dijadikan pupuk

Ketua RW 05 Desa Cisait,Sukamto mengungkapkan keresahan mendalam yang dirasakan warganya.

“Sudah satu bulan lebih warga bertahan, tapi beberapa hari terakhir baunya sangat menyengat,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dampak buruknya tak hanya sebatas polusi udara. “Banyak juga lalat yang berdatangan,” ujarnya.

Jarak lahan yang hanya 500 meter dari pemukiman warga di Kampung Karang Jetak dan Kampung Kubang Cempaka membuat mereka menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Seorang warga lain, Om Iting, membenarkan bahwa bau busuk itu sudah menyebar hingga ke perumahan, mengganggu aktivitas sehari-hari dan merampas kenyamanan hidup. Jika masalah ini berlanjut, warga tidak menutup kemungkinan untuk mengambil sikap yang lebih tegas.

Janji Lisan dan Penanganan yang Terlambat

​Menanggapi keluhan warganya, Kepala Desa Cisait, Ajurum, mengakui telah menerima laporan dan berupaya mencari solusi. Ia menjelaskan bahwa izin untuk program tanam jagung di lahan tidur itu hanya diberikan secara lisan. Masalah muncul ketika kohe yang dikirim ternyata merupakan kotoran ayam murni, yang belum diolah dengan benar.

“Kami langsung hentikan saat itu juga,” kata Ajurum. Ia meminta pihak pengelola untuk segera mengolah lahan agar bau tidak menyebar. Namun, setelah kohe ditaburkan, bau menyengat mulai tercium, menandakan penanganan yang tidak optimal. Ajurum mengaku telah meninjau lokasi dan menekan pengelola untuk segera mengatasi masalah ini.

Menurut Ajurum, pengelola berencana akan menutupi tumpukan kohe dengan tanah (melatori) agar proses penguraian lebih cepat dan bau busuk bisa berkurang. Meskipun Ajurum meyakinkan bahwa pemerintah desa berupaya keras, hingga kini warga masih harus menghadapi dampak buruk dari limbah tersebut.

​Kasus di Cisait ini bukan hanya tentang bau busuk, melainkan cerminan dari lemahnya pengawasan dan perencanaan. Niat baik untuk meningkatkan ketahanan pangan, yang seharusnya berdampak positif, justru menimbulkan masalah baru akibat pengabaian aspek lingkungan dan kesehatan.Timbul pertanyaan, mengapa sebuah proyek yang memiliki potensi dampak besar tidak melalui kajian yang lebih matang, terutama terkait penanganan limbah?.

Bau busuk yang mengandung senyawa seperti amonia dan hidrogen sulfida, serta kemunculan lalat, bukan hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi mengancam kesehatan masyarakat. Harapan warga Cisait untuk mendapatkan kembali udara bersih kini bergantung pada seberapa cepat dan efektif langkah-langkah yang dijanjikan pemerintah desa dan pengelola lahan.(01)