SEBARINDO.COM-Adagium “orang lain yang berbuat, kita yang menanggung” kiranya relevan menggambarkan kondisi lingkungan di Kota Cilegon saat ini. Hujan deras yang mengguyur dalam beberapa waktu terakhir kembali merendam sejumlah wilayah, memicu kesadaran kolektif akan pentingnya pemulihan ekosistem yang telah lama terdegradasi.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kota Cilegon mempercepat realisasi gerakan penanaman satu juta pohon. Langkah ini menjadi strategi darurat untuk memitigasi bencana sekaligus memperbaiki kualitas udara di kota yang menjadi jantung industri tersebut.
Wali Kota Cilegon Robinsar memimpin langsung aksi penanaman pohon secara simbolis di area bekas galian pasir CV Gading Putra Jaya, Lingkungan Bentola, Kelurahan Bulakan, Kecamatan Cibeber, Kamis (15/1/2026).
Robinsar mengakui bahwa pemerintah semula merencanakan program penghijauan ini pada pertengahan tahun 2026. Namun, curah hujan tinggi dan ancaman banjir yang datang lebih awal menjadi “alarm” bagi pemerintah untuk bertindak lebih cepat.
“Ini bukan sekadar seremonial, melainkan langkah nyata. Rencana awal memang di pertengahan tahun, tetapi qodarullah alam memberikan peringatan lebih cepat, sehingga program ini kami realisasikan sekarang,” ujar Robinsar di lokasi penanaman..
Memahami Fungsi Pohon bagi Kota Industri
Secara edukatif, Robinsar menjelaskan bahwa reboisasi memiliki fungsi ganda yang sangat krusial bagi warga. Selain akar pohon yang berfungsi memperkuat struktur tanah dan menyerap air hujan untuk mencegah banjir, tajuk pohon berperan sebagai filter alami.
“Reboisasi ini berkaitan erat dengan kualitas udara. Sebagai kota industri, kita harus memikirkan dampak polusi. Jadi, ini bukan hanya soal pencegahan banjir, tetapi juga pemulihan kualitas udara,” tuturnya.
Baca:Cilegon Tabuh Genderang Perang Lawan Tambang Pasir Ilegal: Demi Alam, Bukan Sekadar Aturan!
Ia pun mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pelaku industri untuk tidak lagi menunggu instruksi resmi dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, kelestarian alam adalah tanggung jawab kolektif.
“Sekecil apa pun yang kita lakukan untuk lingkungan, dampaknya akan kembali kepada kita sendiri,” tambah Robinsar.
Memulihkan Luka Lahan Bekas Tambang
Fokus utama pemerintah dalam gerakan ini adalah menyembuhkan lahan-lahan yang mengalami degradasi parah. Plt Sekretaris Daerah Kota Cilegon, Ahmad Aziz Setia Ade Putra, menyatakan bahwa pihaknya telah memetakan titik-titik kritis yang butuh penanganan segera.
Kawasan bekas pertambangan dan bantaran sungai menjadi prioritas karena kondisinya yang rawan longsor dan minim daya serap air.
“Kami menanam pohon untuk memperkuat struktur tanah agar daya serap air lebih baik, sehingga risiko banjir bandang dan longsor bisa diminimalisir,” jelas Aziz.
Baca:Atasi Banjir, Pemkot Cilegon Stop Aktivitas Galian di 4 Kecamatan dan Ajukan Moratorium
Selain di Cibeber, gerakan ini serentak menyasar beberapa titik strategis lainnya, antara lain di Kelurahan Bagendung, RT/RW 08/04, Kecamatan Cilegon, Jalan Lingkar Selatan Sondol, RT/RW 03/02 Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Citangkil dan di Kelurahan Kepuh.
Melalui percepatan reboisasi ini, Pemkot Cilegon berharap dapat memutus rantai bencana tahunan dan membangun ekosistem kota yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim dan dampak aktivitas industri.(PSR)













