SEBARINDO.COM-Kota Cilegon,nama ini identik dengan kawasan industri manufaktur dan kimia raksasa yang menopang perekonomian daerah, bahkan nasional. Namun, di balik geliat pabrik-pabrik megah dan cerobong asap yang menjulang, tersimpan sebuah potensi bahaya yang luar biasa, yang sayangnya, belum sepenuhnya disadari oleh warga Cilegon sendiri.
Inilah wacana krusial yang perlu dibuka bersama, sebuah seruan untuk membangun kesadaran kolektif di tengah zona industri yang padat.
Fakta bahwa Cilegon adalah wilayah industri manufaktur dan kimia adalah titik tolak pemahaman yang tak terbantahkan. Industri-industri ini, meskipun vital, membawa serta risiko inherent, mulai dari kebocoran bahan kimia, ledakan, hingga dampak lingkungan jangka panjang.
Persoalan inilah yang menjadi kegelisahan para pemangku kepentingan, seperti yang diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Bidang Lingkungan Hidup Kadin Cilegon, Mulyadi Sanusi
“Kadin dan DLH Kota Cilegon sedang mmembuat konsep bagaimana membangun kesadaran berada di daerah industri, di mana bertahun-tahun industri berdiri masyarakat belum sadar tentang potensi bahaya yang mengancam mereka.”ujar pria yang biasa disapa cak moel,Rabu kemarin
Selama ini, fokus pembangunan dan interaksi publik mungkin lebih banyak berkutat pada aspek ekonomi atau infrastruktur, melupakan dimensi paling mendasar yaitu keselamatan dan kesiapan hidup di tengah ancaman potensial yang mengelilingi.
Belajar dari Adaptasi Global, Perilaku yang Relevan dengan Lingkungan
Cak Moel menyoroti pentingnya perilaku masyarakat yang ekuivalen dan reliabel dengan kondisi lingkungan mereka. Ia mengambil contoh dari pengalaman masyarakat Jepang dalam menghadapi bencana.
“Perilaku masyarakat itu equivalent, reliabel dengan kondisi lingkungan. Dia mencontohkan bagaimana masyarakat di Jepang bisa menghadapi bencana seperti bencana alam atau tsunami dengan adaptif dan responsible,”katanya.
Meskipun Cilegon mungkin jarang dilanda bencana alam besar, Cak Moel menegaskan bahwa potensi bahaya industri selalu mengancam.
“Kondisi Kota Cilegon dengan kondisi bencana alam jarang terjadi, tetapi potensi bahaya industri selalu mengancam. Nah, masyarakat sudah tersadarkan atau belum dengan adanya potensi tersebut?”ujar dia dengan nada Tanya.
Edukasi dan Pemahaman Bersama
Jawaban dari permasalahan ini adalah edukasi dan pemahaman. Masyarakat perlu disadarkan, diberikan pengetahuan, dan dibekali keterampilan agar mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan sesuai dengan kebutuhannya.
Adaptasi yang dimaksud merujuk pada kesiapan menghadapi dampak bencana yang ditimbulkan oleh industri. Ini mencakup peran, tanggung jawab, dan tindakan nyata dari semua pihak,pemerintah harus mengambil langkah apa,pelaku industri harus bertindak bagaimana dan masyarakat harus meresponsnya bagaimana.
“Kebutuhan itu dampak dari bencana yang ditimbulkan terhadap masyarakat. Apa yang harus dilakukan oleh pemerintah, para pelaku industri harus bagaimana, masyarakat meresponsnya bagaimana – itu yang harus kami sampaikan,” tegas Cak Moel.
Kondisi ketidaksadaran ini, menurutnya, adalah “kesalahan berjamaah” yang tidak bisa ditimpakan pada satu pihak saja. Kesalahan ini harus diperbaiki secara kolektif dan menyeluruh.
Wacana ini bukan hanya tentang mengkritik atau mencari kambing hitam. Ini adalah dorongan untuk bertindak berdasarkan sebuah premis fundamental, kita tidak hanya berbicara bisnis.
Yang jauh lebih penting dari profitabilitas dan pertumbuhan ekonomi adalah keberlangsungan (sustainability) keberlangsungan keselamatan, dan keberlangsungan kehidupan bermasyarakat di Cilegon.
“Cilegon adalah rumah kita. Jika industri adalah jantung ekonominya, maka kesadaran akan bahaya adalah sistem keamanannya. Saatnya, pemerintah, industri, dan masyarakat, duduk bersama, menyusun langkah adaptasi, dan menjadikan kesadaran keselamatan sebagai budaya hidup bersama,” tutup Cak Moel.(PSR)












