SEBARINDO.COM — Krisis pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia menuntut terobosan yang tidak sekadar bertumpu pada pendekatan kumpul-angkut-buang. Di Kota Cilegon,sebuah inisiatif berbasis sekolah mulai menunjukkan hasil nyata dalam menekan laju limbah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Sampah Akhir (TPSA).
Melalui program bernama KOLASE (Kolaborasi Sekolah Ekonomi Sirkular), pemilahan sampah tidak lagi dipandang sebagai formalitas belaka, melainkan integrasi antara pendidikan karakter lingkungan, literasi keuangan, dan penerapan nyata prinsip ekonomi sirkular sejak usia dini.
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Sabri Mahyudin program ini diawali pada tahun 2023, Program KOLASE dirancang sebagai platform kolaboratif yang menjembatani sektor swasta, pemerintah daerah, institusi keuangan, dan komunitas pendidikan. Kemitraan ini digerakkan oleh PT Chandra Asri Pacific (CAP) bersama Barito Pacific Group melalui Yayasan Bakti Barito, dengan menggandeng Bank Sampah Kota Cilegon, perbankan, serta Pemerintah Kota Cilegon melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Pendidikan.
Fokus utama KOLASE lanjut Sabri, adalah mentransformasi tata kelola sampah sekolah langsung dari hulunya. Dengan mendidik siswa dan tenaga pendidik untuk memilah jenis sampah organik dan anorganik yang memiliki nilai ekonomi, sampah plastik maupun limbah terdaur ulang lainnya dialihkan dari jalur TPA menuju rantai nilai pemanfaatan kembali.
“Dimulai dari sekolah, mulai dari memilah, dan mulai dari sekarang. Setiap sampah yang dipilah bukan hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga menjadi nilai ekonomi dan investasi budaya peduli lingkungan bagi generasi masa depan.”ujarnya.
Evolusi Masif: Dari Pilot Project hingga Gerakan Kota
Langkah awal KOLASE dimulai secara bertahap untuk memastikan kesiapan ekosistem penunjang, seperti sistem penimbangan, penyaluran hasil pilahan, dan pencatatan tabungan.
Fase Perintis (2023): Diinisiasi oleh 4 sekolah sebagai laboratorium percontohan model pemilahan dan integrasi ke bank sampah.
Fase Penguatan (2025): Dikembangkan dan diterapkan di 20 sekolah setelah menunjukkan stabilitas partisipasi dan dampak pengurangan sampah.
Fase Ekspansi Masif (2026): Memperluas jangkauan dengan mereplikasi model ke 105 sekolah tambahan.
Baca:Cetak Generasi Sadar Lingkungan, Pemkot Cilegon Perluas Program KOLASE ke 120 Sekolah
Secara keseluruhan, akumulasi 125 sekolah yang telah mempraktikkan program ini mengindikasikan bahwa model ekonomi sirkular berbasis sekolah sangat adaptif untuk direplikasi secara masif di kawasan perkotaan.
Dampak Terukur dan Potensi Eskalasi
Secara akumulatif, keterlibatan 38.043 siswa dan guru dalam program ini telah mencatatkan hasil ekologis dan ekonomis yang signifikan.35.354 ton sampah terkelola dan berhasil dipilah dari hulu sehingga tidak terbuang membebani TPA.
Sebanyak Rp58 juta tabungan kolektif terkumpul dari konversi sampah terdaur ulang, memberikan insentif finansial transparan bagi warga sekolah.
Pengelola program menggarisbawahi bahwa akumulasi data capaian tersebut belum mencakup kontribusi penuh dari sekolah-sekolah pada Tahap III dan Tahap IV. Dengan demikian, potensi pengurangan volume sampah kota dan pembentukan modal sosial ekonomi sirkular di Cilegon diperkirakan akan terus berlipat ganda.
Komitmen Sinergi Berkelanjutan
Keberhasilan mentransformasi kultur pengelolaan limbah ini merupakan buah sinergi dari seluruh pemangku kepentingan. Apresiasi dan kemitraan erat terus terjalin antara Pemerintah Kota Cilegon, DLH Kota Cilegon, Dinas Pendidikan Kota Cilegon, PT Chandra Asri Pacific (CAP), Barito Pacific Group, Yayasan Bakti Barito, Bank Sampah Kota Cilegon, mitra perbankan, serta seluruh kepala sekolah, guru, dan siswa di 125 sekolah peserta KOLASE.
Melalui jargon “Dari sekolah untuk lingkungan, dari sampah menjadi nilai”, KOLASE memposisikan sekolah sebagai benteng terdepan dalam mewujudkan Kota Cilegon yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.












