Example 728x250
BeritaBudayaWisata Indonesia

Literasi Keagamaan Lintas Budaya, Kunci Indonesia Perkuat Kepercayaan Sosial di Tengah Masyarakat Majemuk

165
×

Literasi Keagamaan Lintas Budaya, Kunci Indonesia Perkuat Kepercayaan Sosial di Tengah Masyarakat Majemuk

Sebarkan artikel ini
Kemendikdasmen Abdul Mu'ti.Foto:Nurlaili

SEBARINDO.COM-Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Institut Leimena menggelar Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (ICCCRL) di Jakarta, Selasa kemarin. Konferensi ini menjadi panggung untuk menegaskan satu isu krusial yaitu pentingnya pendidikan sebagai landasan untuk memperkuat rasa saling percaya (social trust) di tengah masyarakat majemuk.

Mengusung tema “Education and Social Trust in Multifaith and Multicultural Societies”, acara ini mengumpulkan pemangku kepentingan, akademisi, dan praktisi dari 20 negara untuk berbagi gagasan konkret mengenai penguatan kohesi sosial.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, membuka konferensi dengan nada optimistis. Menurutnya, kerukunan antaragama dan antarbudaya dapat diwujudkan jika masyarakat memiliki kemauan untuk membuka hati, pikiran, dan bersedia bekerja sama.

Mu’ti menekankan bahwa komitmen Kemendikdasmen saat ini adalah membekali generasi muda agar “semakin percaya diri untuk melintas batas interaksi sosial dan budaya.” Pesan ini mengisyaratkan bahwa investasi pada pendidikan adalah investasi jangka panjang untuk kepemimpinan dunia masa depan.

Dalam kaitan itulah, Kemendikdasmen memprioritaskan sejumlah langkah strategis. Tiga di antaranya adalah penerapan pembelajaran mendalam (deep learning), pelaksanaan program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang mendorong aktivitas sosial, dan penguatan program konseling untuk komunikasi sehat di sekolah dan keluarga.

“Forum ini menjadi penting di mana kita tidak hanya mencoba untuk mengkaji berbagai hal secara teoritis, tapi ke depan kita harus bersama-sama membangun sebuah gerakan yang berbasis pendidikan, baik di sekolah, keluarga, dan masyarakat,” tegas Mu’ti seperti dikutip sebarindo.com dari laman resmi kemendikdasmen.go.id, Rabu (12/11/2025).

Model LKLB Indonesia Mendapat Sorotan Internasional

Executive Director Institut Leimena Matius Ho, , menyoroti bahwa kemampuan kolaborasi lintas iman sangat memengaruhi kadar kepercayaan dalam masyarakat. Pandangan ini sejalan dengan rekomendasi UNESCO 2021 yang menekankan pedagogi solidaritas di tengah dunia yang terpolarisasi.

Pengakuan terhadap model yang dikembangkan di Indonesia ini datang dari kancah internasional. Christopher Stewart, Chief Grants Officer Templeton Religion Trust, menyebut bahwa program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) telah menginspirasi negara-negara ASEAN.

“Pendekatan tersebut memiliki potensi besar dalam mengurangi ketegangan, menyelesaikan konflik, serta mencegah ekstremisme,” kata Stewart, melihat LKLB sebagai pendekatan yang dirancang baik untuk membangun masyarakat inklusif.

Senada dengan itu, Brett Scharffs, Director International Center for Law and Religion Studies, Brigham Young University Law School, menegaskan bahwa LKLB di Indonesia telah berkembang jauh melampaui pelatihan guru biasa. Program ini diakui secara global sebagai model keterlibatan mendalam yang menghasilkan kerja sama bermakna antar komunitas yang beragam.

“Hal utama yang ingin saya tekankan adalah betapa signifikannya literasi keagamaan lintas budaya yang dikembangkan di Indonesia, yang kini telah mendapat pengakuan luas,” ujar Brett, berharap visi dan nilai LKLB dapat diperluas, tidak hanya di ASEAN tetapi ke seluruh dunia.

Konferensi yang dihadiri delegasi dari berbagai Negara mulai dari Amerika Serikat, Inggris, Jepang, hingga Uni Emirat Arabini menegaskan kembali komitmen Kemendikdasmen dan Institut Leimena. Pendidikan, diharapkan menjadi jembatan utama yang merajut keragaman, bukan memisahkannya, demi terciptanya masyarakat yang rukun dan berkeadaban.(PSR)