SEBARINDO.COM-Wali Kota Cilegon Robinsar menegaskan, program “Merdeka Bicara” bukan sekadar seremoni formalitas atau ruang bagi pemerintah untuk membela diri di hadapan publik. Forum dialog ini diklaim sebagai jembatan komunikasi untuk menyerap kritik tajam dari kalangan mahasiswa dan masyarakat Cilegon terkait isu-isu krusial di Kota Baja.
“Forum ini bukan ajang pembelaan diri, melainkan ruang untuk menyampaikan progres serta memperkuat komunikasi dua arah,” ujar Robinsar dalam dialog di Paradiso Garden Café, Rabu,(22/4/2026) malam.
Menurut Robinsar, sekitar 70 persen aspirasi yang dilemparkan mahasiswa dalam forum tersebut sebenarnya sudah masuk dalam radar perencanaan pemerintah atau bahkan sedang dalam tahap implementasi. Namun, ia mengakui masih banyak celah yang perlu ditutup melalui masukan langsung dari generasi muda.
Dialog kali ini berlangsung cukup dinamis. Salah satu sorotan tajam datang dari perwakilan perwakilan GMNI Kota Cilegon, Sarinah Hani,. Ia menilai Cilegon sedang berada dalam kondisi “darurat aman” menyusul maraknya kasus pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Sarinah mempertanyakan aksesibilitas Kantor Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta kondisi taman layak anak yang dinilai jauh dari standar—mulai dari fasilitas yang rusak hingga minimnya ruang menyusui.
Merespons hal itu, Robinsar menyatakan telah menginstruksikan DP3AKB dan unit PPA untuk mempercepat penanganan kasus dengan berkoordinasi bersama kepolisian dan kejaksaan.
“Kami telah membuka jalur komunikasi untuk mempercepat penanganan hukum,” kata dia.
Selain isu sosial, persoalan klasik seperti drainase dan penanganan banjir tetap menjadi menu utama dalam diskusi. Pemerintah Kota Cilegon mengklaim terus melakukan pembenahan infrastruktur melalui pemetaan anggaran yang bersumber dari APBD maupun dana Corporate Social Responsibility (CSR) industri.
Di sisi lain, Robinsar juga memaparkan rencana program inovatif di sektor pertanian. Pemkot berencana menyalurkan bibit unggul untuk mendongkrak produktivitas panen demi ketahanan pangan daerah. “Kami mengajak mahasiswa yang minat di bidang pertanian untuk ikut berkolaborasi,” tambahnya.
Inisiatif
Wakil Wali Kota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo, menambahkan bahwa “Merdeka Bicara” merupakan janji politik yang direalisasikan. Inisiatif ini muncul dari tumpukan aspirasi mahasiswa sejak awal masa kepemimpinannya bersama Robinsar.

Ia mengatakan, forum dialog “Merdeka Bicara” ini diharapkan seluruh masyarakat Kota Cilegon bisa menjadi mata dan telinga Pemkot Cilegon untuk kemajuan kota baja.
“Kami tidak bisa kerja sendiri, maka jadilah mata dan telinga Pemkot Cilegon bila melihat persoalan yang ada di masyarakat.Ini menandakan kepedulian mahasiswa terhadap pembangunan Kota Cilegon sangat besar. Kami memfasilitasi agar mereka bisa mengawal pembangunan secara langsung,” pungkas Fajar.(PSR)











