SEBARINDO.COM-Riuh diskusi di aula Dinas Sosial Rehabilitasi Kota Cilegon. Di ruangan itu, puluhan seniman dari berbagai pelosok di Provinsi Banten berkumpul, membawa map berisi lembaran gagasan dan imajinasi yang siap diuji.
Pemerintah Kota Cilegon, resmi membuka tahapan verifikasi proposal karya, workshop, dan pembekalan peserta menjelang gelaran Festival Teater Banten (FTB) ke-4. Perhelatan seni pertunjukan tingkat provinsi ini dijadwalkan menghentak Cilegon pada 1–3 Oktober 2026 mendatang.
Hadir di tengah-tengah seniman, Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo secara terbuka meminta semua pihak meruntuhkan tembok birokrasi dalam menyikapi karya seni. Menurutnya, seni dan kebudayaan harus berdiri sebagai ruang merdeka milik bersama.
“Saya ingin FTB ke-4 menjadi ruang yang terbuka bagi seluruh pelaku seni untuk berekspresi dan berkarya. Tidak ada sekat birokrasi maupun latar belakang, karena seni dan budaya merupakan milik kita bersama,” ujar Fajar.
Merawat Memori Lewat Folklore
Dalam kesempatan itu, Fajar mengingatkan tim kurator supaya tidak terburu-buru menolak gagasan cerita yang unik atau di luar arus utama. Ia mendorong para penilai untuk melihat potensi mendalam di balik kebebasan berpikir para penggarap naskah.
Bagi Fajar, kekuatan Banten tidak sekadar berdiri di atas deretan bentangan beton dan infrastruktur fisik, melainkan terajut dari narasi dan cerita rakyat (folklore) yang diwariskan secara turun-temurun.
“Banten ini berdiri tidak hanya dengan infrastrukturnya saja, tetapi dari cerita. Banyak sekali cerita di setiap daerah, cerita kebudayaan, folklore-nya. Folklore itu yang paling penting yang harus kita jaga,” tegasnya.
Ia pun berpesan agar seluruh pemangku kepentingan—termasuk Dewan Kebudayaan Kota Cilegon membangun kolaborasi yang hangat. Fajar menyatakan tekadnya menjadikan Cilegon sebagai tuan rumah yang santun dan berkesan bagi seluruh kontingen se-Provinsi Banten.
Pembuktian Generasi Muda dan Penjamuan Hangat
Semangat tinggi juga terpancar dari raut wajah Ketua Panitia FTB IV, Hilal Ramadhan. Ia tidak memungkiri rasa haru dan bangganya saat menerima amanah memimpin panggung berskala provinsi untuk pertama kalinya.
“Ini merupakan event terbesar yang pernah saya lakukan. Alhamdulillah sekarang dipercaya menjadi ketua pelaksana. Tidak pernah terbayangkan dan tidak pernah terpikirkan sama sekali,” ungkap Hilal.
Hilal menjelaskan, tahapan verifikasi dan workshop ini menjadi fondasi penting untuk mematangkan konsep pementasan dari tiap perwakilan daerah. Sebagai tuan rumah, timnya berjanji akan mengupayakan fasilitas penjamuan terbaik bagi para tamu yang siap menginap selama tiga hari dua malam di Cilegon.
Merajut Ekosistem Kebudayaan Banten
Langkah Cilegon menggelar perhelatan budaya ini mendapat apresiasi hangat dari seniman senior setempat, Indra Kusuma. Ia menilai FTB IV bukan sekadar panggung pertunjukan biasa, melainkan momentum berharga untuk memperkuat rantai ekosistem kebudayaan lokal.
“Ini merupakan ajang silaturahmi, sebuah peristiwa budaya antara ide dan gagasan, termasuk upaya kawan-kawan dalam berkarya yang mewakili hampir setiap kabupaten/kota di Banten,” tutur Indra.
Melalui sinergi antara pemerintah, kurator, dan para seniman, Cilegon kini bersiap menjadi titik temu gagasan—menghidupkan kembali cerita-cerita lama dalam nafas pertunjukan teater modern.(PSR)













