ArtikelBudayaWisata Indonesia

Ulama Banten KH. Sulaiman bin Madera: Menguasai Ilmu Falak dan Pengobatan Tradisional, Jadi Hakim di Era Kolonial yang Hampir Terlupakan!

87
×

Ulama Banten KH. Sulaiman bin Madera: Menguasai Ilmu Falak dan Pengobatan Tradisional, Jadi Hakim di Era Kolonial yang Hampir Terlupakan!

Sebarkan artikel ini
Ulama Banten KH. Sulaiman bin Madera
Foto : Ulama Banten KH. Sulaiman bin Madera ( dipertajam Oleh AI )

SEBARINDO.COM – Di tengah cengkeraman hukum kolonial Belanda yang sangat ketat, sosok seorang kiai dari kampung kecil di Serang tiba-tiba duduk di kursi hakim pengadilan. Ia bukan hanya mengajar santri di atas tikar surau, melainkan memutus perkara hukum masyarakat.

Ia menguasai ilmu falak dan pengobatan tradisional, sekaligus menjadi bagian dari rantai emas ulama Nusantara yang berguru langsung kepada Syekh Nawawi Albantani di Makkah.

Ironisnya, nama besar beliau nyaris tenggelam dan tak banyak tercatat dalam buku-buku sejarah nasional. Siapa sebenarnya sosok di balik nama jalan yang setiap hari dilalui warga Serang? Sosok itu adalah Ulama Banten bernama KH. Sulaiman bin Madera.

Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa peradaban Islam di Banten tidak lahir dari kebetulan. Ia dibangun di atas keringat, ketulusan, ketegasan hukum, dan ilmu yang diamalkan secara nyata oleh para ulama lokal.

Artikel ini akan mengupas tuntas jejak hidup Ulama Banten yang luar biasa ini berdasarkan catatan sejarah lokal yang masih terjaga.

Awal Kehidupan dan Garis Keturunan yang Kokoh

KH. Sulaiman dilahirkan pada tahun 1871 di Kampung Kelapa I, Desa Keagungan, Serang. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang sangat kuat. Ayahnya, Madera, adalah seorang kiai terkemuka di wilayahnya.

Garis keturunan ayahnya tersambung melalui rantai kiai besar, mulai dari K.Haji Kam, K.H. Maun, K.H. Muhammad, K.H. Naim, hingga K.H. Damang. Dari garis ibunya, Nyai Hajah Arsiyah, disebut memiliki jalur darah dengan bangsawan Cirebon. Fondasi keulamaan sudah mendarah daging sejak beliau lahir.

Lingkungan keluarga yang religius dan berilmu membentuk karakter Sulaiman muda. Di masa itu, Banten sedang berada di bawah tekanan politik kolonial yang sangat berat.

Namun, semangat menuntut ilmu tetap menyala di kalangan keluarga ulama. Inilah yang kelak membuat KH. Sulaiman bin Madera menjadi salah satu Ulama Banten yang mampu menjembatani tradisi pesantren dengan kebutuhan masyarakat yang lebih luas.

Keputusan Berani di Tahun 1888: Menuju Makkah di Tengah Gejolak

Tahun 1888 menjadi titik balik penting. Tahun yang sama dengan meletusnya tragedi berdarah Geger Cilegon. Situasi politik Banten sedang membara dan penuh tekanan kolonial.

Di usia 17 tahun, Sulaiman mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya. Bersama istri pertamanya, Nyai Arsiah, ia nekad melompat melintasi lautan. Tujuan mereka bukan sekadar menunaikan ibadah haji, melainkan menimba ilmu langsung di jantung dunia Islam, Makkah Almukarramah.

Di tanah suci, di tengah jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia, takdir mempertemukannya dengan sang maestro agung asal Banten yang mendunia, Syekh Nawawi Albantani. Berguru langsung kepada ulama besar ini menjadikan KH.

Sulaiman bin Madera sebagai salah satu mata rantai penting yang menghubungkan intelektualitas Islam Banten langsung ke Makkah. Ia tidak hanya belajar fiqh dan tafsir, tetapi juga menyerap cara berpikir dan pendekatan keilmuan yang luas.

Sekembalinya ke tanah air sekitar tahun 1891, pengembaraannya belum usai. Beliau masih menyerap ilmu dari jaringan ulama karismatik lainnya. Di antaranya berguru kepada Syekh Abdul Karim Tanara bersama Abuya K.H. Abdul Latif Ali Cibber.

Proses belajar yang panjang dan berlapis ini membentuk kapasitas keilmuan yang tidak biasa. KH. Sulaiman bukan hanya fasih membaca kitab, melainkan mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan nyata masyarakat.

Puncak Pengabdian: Menjadi Hakim di Era Kolonial

Sekitar tahun 1930, nama KH. Sulaiman bin Madera mendadak menjadi rujukan penting di kancah hukum lokal. Beliau dipercaya mengemban tugas sebagai hakim anggota di Serang.

Bayangkan, di masa penjajahan ketika hukum adat dan hukum kolonial saling berbenturan, seorang ulama pesantren ditarik masuk ke dalam sistem peradilan untuk memastikan keadilan bagi umat.

Ini membuktikan bahwa kapasitas keilmuan beliau bukan kaleng-kaleng. Beliau bukan hanya kiai yang fasih membaca kitab fiqh dan tafsir, tetapi juga seorang ahli strategi sosial.

Ketegasannya diimbangi dengan kearifan luar biasa. Ilmu beliau lintas disiplin. Mulai dari ilmu falak untuk menghitung kalender dan arah kiblat, hingga keahlian meracik pengobatan tradisional. Kapasitas intelektualnya diakui luas oleh para ulama sezamannya, termasuk Abu Yahya dari Kampung Sawah Baros.

Keberadaan Ulama Banten di kursi hakim pada masa itu memiliki makna mendalam. Ia menjadi jembatan antara nilai-nilai agama dan sistem hukum yang berlaku.

Masyarakat yang merasa kesulitan menghadapi sistem kolonial menemukan tempat berlindung pada sosok yang memahami baik hukum agama maupun kondisi sosial mereka. Keberanian beliau untuk masuk ke dalam sistem yang penuh tekanan menunjukkan komitmen nyata terhadap keadilan.

Membangun Basis Pendidikan dan Jejaring Dakwah

Sepulang dari Makkah, KH. Sulaiman bin Madera tidak memilih hidup tenang untuk dirinya sendiri. Beliau mendedikasikan seluruh napasnya untuk membangun basis pendidikan keagamaan.

Ia merawat tradisi keilmuan di Kelapa Dua serta memperkuat jejaring dakwah dan peradaban di Sukalila dan Cantilan. Aktivitas ini bukan sekadar mengajar di pesantren, melainkan membangun ekosistem ilmu yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dari dua pernikahannya, baik dengan Nyai Arsiah maupun Nyai Asyikh, beliau melahirkan keturunan-keturunan yang meneruskan warisan kebajikan. Rantai keilmuan dan pengabdian tidak putus. Para keturunan menjadi penerus semangat yang sama: menjaga ilmu, menegakkan keadilan, dan melayani masyarakat.

Baca Juga : Masjid Agung Nurul Ikhlas Cilegon Direvitalisasi, KH Ahmad Slamet: Semoga Jadi Pusat Syiar Islam

Wafat dan Warisan yang Abadi

Roda zaman terus berputar. Pada tanggal 5 Juni 1943, bertepatan dengan 2 Jumadil Akhir 1362 Hijriah, sang penjaga panji keadilan dan ilmu ini berpulang ke rahmatullah.

Jasadnya kini bersemayam di pemakaman keluarga di Kampung Cantilan. Fisik beliau boleh tiada, tetapi sejarah menolak tunduk pada lupa.

Hari ini, setiap kali warga melintas di ruas jalan yang membentang dari kawasan Sumur Bor Kelapa 2 hingga perbatasan Cantilan dan Kidemang Unyur, yang kini diabadikan dengan nama Jalan KH. Sulaiman, kita diingatkan pada satu kenyataan. Peradaban besar di Kota Serang tidak dibangun dari kebetulan.

Ia dibangun di atas tetesan keringat, ketulusan, ketegasan hukum, dan ilmu yang diamalkan oleh para ulama seperti KH. Sulaiman bin Madera.

Mengapa Kisah Ulama Banten Ini Penting untuk Dikenang?

Kisah KH. Sulaiman bin Madera mengajarkan banyak hal. Pertama, bahwa ilmu harus diamalkan dalam konteks nyata. Beliau tidak hanya tinggal di menara gading pesantren, melainkan masuk ke ruang hukum yang penuh tantangan.

Kedua, bahwa jejaring keilmuan lintas wilayah sangat penting. Dari Banten ke Makkah, lalu kembali memperkuat basis lokal, rantai itu terus terhubung. Ketiga, bahwa pengabdian tidak berhenti pada satu generasi. Melalui keluarga dan murid-muridnya, semangat itu terus hidup.

Di tengah arus modernisasi yang sering melupakan akar sejarah lokal, mengingat kembali Ulama Banten seperti KH. Sulaiman bin Madera menjadi penting.

Nama jalan yang dilalui setiap hari seharusnya tidak hanya sekadar petunjuk arah, melainkan pengingat akan nilai-nilai yang pernah diperjuangkan. Ketegasan dalam menegakkan keadilan, keluasan ilmu, dan ketulusan mengabdi kepada masyarakat adalah warisan yang masih relevan hingga kini.

Sejarah lokal Banten menyimpan banyak nama besar yang sayangnya belum banyak dikenal luas. KH. Sulaiman bin Madera adalah salah satunya. Dengan menelusuri jejaknya, kita tidak hanya mengenal seorang ulama, melainkan memahami bagaimana Islam di Banten berkembang melalui kerja keras, keberanian, dan dedikasi yang nyata.

Beliau membuktikan bahwa seorang Ulama Banten mampu berdiri di tengah pusaran zaman, menjembatani tradisi dan kebutuhan umat, serta meninggalkan jejak yang abadi meski namanya sempat hampir terlupakan.

Warisan keilmuan dan keteladanan KH. Sulaiman bin Madera terus hidup melalui nama jalan yang menghubungkan kawasan Kelapa Dua hingga Cantilan.

Setiap langkah di jalan itu menjadi pengingat bahwa peradaban dibangun oleh orang-orang yang berani mengambil risiko, menuntut ilmu hingga ke tanah suci, dan kemudian kembali mengabdi di tanah kelahiran.

Semoga kisah Ulama Banten ini terus dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk menjaga nilai-nilai keilmuan, keadilan, dan pengabdian.

Salam budaya dan salam sejarah. Semoga jejak KH. Sulaiman bin Madera terus dikenang dan menjadi bahan renungan bersama.