SEBARINDO.COM – Tumpukan jeriken dan antrean panjang sudah menjadi pemandangan akrab di Kampung Kejangkungan,Bojonegara,Kabupaten Serang.
Bukan karena ada pembagian sembako, melainkan perjuangan harian warga untuk mendapatkan air bersih.
Selama berbulan-bulan, air menjadi barang langka. Begadang menjadi rutinitas, berharap bisa menampung tetesan air yang mengalir “seperti kencing kucing” dan hanya bertahan hitungan jam.
Sejak sekitar tiga bulan lalu, krisis air melanda kampung ini. Air yang mengalir pun hanya sampai keran luar, tak cukup kuat untuk masuk ke instalasi rumah.
“Malam begadang di luar nadahin tetesan air. Menjelang subuh mati sampai nanti sekitar isya baru ada ngalir netes di keran luar,” tutur seorang warga kepada sebarindo.com, Jumat (29/8/2025) yang merasakan langsung kesulitan ini.
Di tengah situasi serba sulit, secercah harapan datang. Bukan dari pemerintah, melainkan dari inisiatif seorang warga .
Pada Jumat pagi yang penuh berkah, tiga mobil tangki berisi air bersih tiba di kampung. Bantuan ini disambut haru dan penuh syukur oleh warga.
Mereka berbondong-bondong mengantre, bukan dengan keluhan, tetapi dengan ekspresi lega.
Baca Juga : Krisis Air Bersih di Bojonegara: Warga Berjuang di Tengah Geliat Kawasan Industri
“Alhamdulillah hari ini Jumat dapat sumbangan air bersih lagi dari warga kita, tiga mobil tangki. Dengan bantuan tersebut, semoga bisa sedikit membantu meringankan beban warga yang selama sekian bulan kesulitan mendapatkan air bersih.
Ironi yang Menyakitkan: PDAM Ratusan Meter, Bantuan Tak Terlihat

Kebaikan hati warga tersebut menjadi oase di tengah gurun. Namun, momen ini juga menyoroti sebuah ironi yang menyakitkan. Kantor Perumda Al Bantani yang seharusnya menjadi sumber solusi, hanya berjarak beberapa ratus meter dari Kampung Kejangkungan. Namun, hingga kini, tidak ada satu pun petugas atau penjelasan resmi yang diterima warga terkait krisis ini.
“Dari pihak pemerintah setempat dan instansi terkait belum ada aksi,”ujar warga lain dengan nada pasrah. Dia pun mengatakan hingga saat ini terkesan tidak peduli karena tidak terlihat petugas yang hadir memberikan penjelasan kepada masyarakat.
Informasi yang sampai ke telinga warga hanya kabar burung yang beredar dari pesan berantai. Sejak Juli, isu “perbaikan” terus terdengar. Kadang perbaikan tandon induk, kadang pengurasan di daerah lain. Semua itu hanya menjadi janji yang tidak jelas kapan akan terwujud.
“Kata anggota dewan lagi ada perbaikan,” ujarnya. mengutip pesan WhatsApp dari warga lain.
Kita lihat selesainya ya kang, masa enggak ada bantuan sama sekali, ujar dia pasrah.
Bukan Sekadar Air, Ini Tentang Kepedulian
Kisah Kampung Kejangkungan adalah potret nyata dari perjuangan masyarakat kecil yang berhadapan dengan masalah struktural. Di saat pihak berwenang seolah-olah mengabaikan, kepedulian dari sesama warga menjadi penyelamat.
Bantuan dari warga bukan hanya soal pasokan air, tetapi juga tentang menjaga harapan.
Warga hanya bisa berharap “perbaikan” yang dijanjikan segera selesai. Mereka hanya ingin kembali hidup normal, tanpa harus begadang demi menampung tetesan air.
(PSR)












