Example 728x250
Berita

Siswa SD “Sentil” Pejabat Cilegon, Suasana Hari Antikorupsi Dibuat Termenung Puisi “Di Negeri Amplop”

300
×

Siswa SD “Sentil” Pejabat Cilegon, Suasana Hari Antikorupsi Dibuat Termenung Puisi “Di Negeri Amplop”

Sebarkan artikel ini
Akyas Faiz Ramadhan, seorang siswa kelas VI SD IT Raudatul Jannah Cilegon, membacakan puisi fenomenal karya Mustofa Bisri, "Di Negeri Amplop".di acara HAKORDIA 2025,yang digelar di aula Setda Kota Cilegon,Selasa (9/12/2025). Penampilan polos Akyas seakan menjadi sebuah "sentilan" keras yang langsung menohok para hadirin.Foto:Diskominfo Kota Cilegon

SEBARINDO.COM– Suasana peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2025 tingkat Pemerintah Kota Cilegon yang berlangsung di aula Setda, Selasa (9/8/2025), terasa begitu menyentuh. Para peserta HAKORDIA 2025, termasuk sejumlah pejabat Pemkot Cilegon dan peserta, tampak termenung dan diam saat mendengarkan pembacaan puisi yang secara tajam menyoroti praktik korupsi.

Akyas Faiz Ramadhan, seorang siswa kelas VI SD IT Raudatul Jannah Cilegon, membacakan puisi fenomenal karya Mustofa Bisri, “Di Negeri Amplop”. Penampilan polos Akyas seakan menjadi sebuah “sentilan” keras yang langsung menohok para hadirin.

Puisi “Di Negeri Amplop” yang dibacakan siswa tersebut memang dikenal sebagai karya Gus Mus yang sangat kuat dan kritis, secara telanjang menyoroti isu korupsi dan manipulasi yang merajalela dalam masyarakat dan pemerintahan.

Amplop Menguasai Penguasa

Inti dari puisi ini menggambarkan “amplop-amplop” sebagai perwujudan karakter korupsi, sogokan, dan penyelewengan kekuasaan yang keji. Mustofa Bisri secara lugas mendeskripsikan bagaimana amplop-amplop ini mengatur hal-hal yang tidak teratur, mengubah hal-hal yang teratur, dan bahkan memutuskan atau membatalkan putusan secara sewenang-wenang.

Kritik tajam Gus Mus yang diwakili Akyas seolah melayangkan gugatan terhadap praktik-praktik ilegal yang jamak terjadi. Uang atau hadiah, yang dibungkus dalam “amplop”, menjadi alat utama untuk memengaruhi kebijakan dan putusan, menciptakan budaya yang tidak etis dan merugikan.

Baca:Hari Antikorupsi, Pemkot Cilegon Minta Semua Pihak Perkuat Komitmen Bersama Cegah Korupsi

Bait demi bait yang dilantunkan Akyas menggambarkan betapa meresahkannya dominasi amplop :

Di Negeri Amplop

Aladin menyembunyikan lampu wasiatnya “malu”

Samson tersipu-sipu, rambut keramatnya ditutupi topi “rapi-rapi”

David Coverfil dan Rudini bersembunyi “rendah diri”

Entah, andai Nabi Musa bersedia datang membawa tongkatnya.

Amplop-amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur

Hal-hal yang tak teratur menjadi teratur

Hal-hal yang teratur menjadi tak teratur

Memutuskan putusan yang tak putus

Membatalkan putusan yang sudah putus.

Amplop-amplop menguasai penguasa

dan mengendalikan orang-orang biasa

amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan

mencairkan dan membekukan

mengganjal dan melicinkan

Orang bicara bisa bisu

Orang mendengar bisa tuli

Orang alim bisa nafsu

Orang sakti bisa mati.

Di negeri amplop, amplop-amplop mengamplopi apa saja dan siapa saja.

Puisi ini juga secara tersirat menggambarkan tokoh legendaris seperti Aladin, Samson, dan David Coverfield yang seolah tergoda oleh korupsi dan ketidakjujuran, melambangkan sosok-sosok penguasa yang akhirnya tersipu dan bersembunyi karena ulah “amplop”.

Pembacaan puisi ini sukses menciptakan suasana yang hening dan penuh introspeksi pada peringatan HAKORDIA 2025 tingkat Pemkot Cilegon, mengingatkan kembali seluruh elemen pemerintahan tentang bahaya nyata dari budaya amplop yang membisukan kebenaran dan mematikan keadilan.(PSR)