SEBARINDO.COM– Suasana peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2025 tingkat Pemerintah Kota Cilegon yang berlangsung di aula Setda, Selasa (9/8/2025), terasa begitu menyentuh. Para peserta HAKORDIA 2025, termasuk sejumlah pejabat Pemkot Cilegon dan peserta, tampak termenung dan diam saat mendengarkan pembacaan puisi yang secara tajam menyoroti praktik korupsi.
Akyas Faiz Ramadhan, seorang siswa kelas VI SD IT Raudatul Jannah Cilegon, membacakan puisi fenomenal karya Mustofa Bisri, “Di Negeri Amplop”. Penampilan polos Akyas seakan menjadi sebuah “sentilan” keras yang langsung menohok para hadirin.
Puisi “Di Negeri Amplop” yang dibacakan siswa tersebut memang dikenal sebagai karya Gus Mus yang sangat kuat dan kritis, secara telanjang menyoroti isu korupsi dan manipulasi yang merajalela dalam masyarakat dan pemerintahan.
Amplop Menguasai Penguasa
Inti dari puisi ini menggambarkan “amplop-amplop” sebagai perwujudan karakter korupsi, sogokan, dan penyelewengan kekuasaan yang keji. Mustofa Bisri secara lugas mendeskripsikan bagaimana amplop-amplop ini mengatur hal-hal yang tidak teratur, mengubah hal-hal yang teratur, dan bahkan memutuskan atau membatalkan putusan secara sewenang-wenang.
Kritik tajam Gus Mus yang diwakili Akyas seolah melayangkan gugatan terhadap praktik-praktik ilegal yang jamak terjadi. Uang atau hadiah, yang dibungkus dalam “amplop”, menjadi alat utama untuk memengaruhi kebijakan dan putusan, menciptakan budaya yang tidak etis dan merugikan.
Baca:Hari Antikorupsi, Pemkot Cilegon Minta Semua Pihak Perkuat Komitmen Bersama Cegah Korupsi
Bait demi bait yang dilantunkan Akyas menggambarkan betapa meresahkannya dominasi amplop :
Di Negeri Amplop
Aladin menyembunyikan lampu wasiatnya “malu”
Samson tersipu-sipu, rambut keramatnya ditutupi topi “rapi-rapi”
David Coverfil dan Rudini bersembunyi “rendah diri”
Entah, andai Nabi Musa bersedia datang membawa tongkatnya.
Amplop-amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur
Hal-hal yang tak teratur menjadi teratur
Hal-hal yang teratur menjadi tak teratur
Memutuskan putusan yang tak putus
Membatalkan putusan yang sudah putus.
Amplop-amplop menguasai penguasa
dan mengendalikan orang-orang biasa
amplop-amplop membeberkan dan menyembunyikan
mencairkan dan membekukan
mengganjal dan melicinkan
Orang bicara bisa bisu
Orang mendengar bisa tuli
Orang alim bisa nafsu
Orang sakti bisa mati.
Di negeri amplop, amplop-amplop mengamplopi apa saja dan siapa saja.
Puisi ini juga secara tersirat menggambarkan tokoh legendaris seperti Aladin, Samson, dan David Coverfield yang seolah tergoda oleh korupsi dan ketidakjujuran, melambangkan sosok-sosok penguasa yang akhirnya tersipu dan bersembunyi karena ulah “amplop”.
Pembacaan puisi ini sukses menciptakan suasana yang hening dan penuh introspeksi pada peringatan HAKORDIA 2025 tingkat Pemkot Cilegon, mengingatkan kembali seluruh elemen pemerintahan tentang bahaya nyata dari budaya amplop yang membisukan kebenaran dan mematikan keadilan.(PSR)












